Senin, 30 November 2009

Sudarno Pencipta Tongnopos dan Cairan MBS

Sudarno, Tak Lelah Bereksperimen Sampah


Dua tong sampah di teras rumah Sudarno di Surabaya memang lain. Walaupun berisi sampah organik, saat tutupnya dibuka tak tercium aroma menyengat khas sampah. Bahkan, lalat pun enggan hinggap di sekitarnya.

Oleh MARULI FERDINAND
Sudarno menamai tong ciptaannya itu “Tognopos”, singkatan dari Tong Darno Kompos. Sesuai dengan namanya, tong itu diciptakan untuk mengambil air lindi (air sampah) yang dijadikan pupuk cair. Air itu keluar dari keran yang desediakan guna menghasilkan pupuk cair. Untuk itu, sampah organik harus dibiarkan selama sebulan. Tutup tong mesti rapat agar tak banyak udara bebas yang masuk.
Ke dalam Tongnopos, Sudarno menyemprotkan cairan MBS, singkatan “manis bara Sudarno”, juga ciptaannya. Manis, karena bahan dasar cairan berasal dari tebu muda dan Bara, karena tebu itu dibakar. Tebu bakar lalu digiling dan cairannya dijadikan MBS. Cairan itulah yang menghilangkan bau sampah organik dan membuat alergi lalat dan kecoak. MBS juga bisa menghilangkan bau tak sedap lainnya, seperti bangkai dan kotoran hewan. “Sama sekali tak ada zat kimia dalam MBS, begitu juga Tongnopos,” ujarnya.
Sudarno juga mencampurkan gas minyak dalam MBS. Ini untuk menghindari pedagang ayam nakal, yang mungkin menjual bangkai ayam tak berbau dengan menyemprotkan MBS. Bau gas minyak tak hilang meski ayam dimasak hingga matang. Dengan begiru, orang enggan membeli ayam mati yang berbau gas minyak. Kalaupun ada orang yang terlanjur memakannya, gas itu tak berbahaya.
Sebelum menciptakan Tongnopos dan MBS, Sudarno lebih dulu membuat Batem alias Bata daleme macem-macem. Bata berwarna putih itu merupakan campuran pasir, semen, juga sampah, baik yang mudah maupun sulit terurai. Sampah itu diantaranya plastik, stirofom, kardus, hingga kulit padi. Bata temuan dia kini tersebar di Jawa Timur, Bali, dan Jakarta.
Berkat berbagai penemuan itu, pada 5 Juni 2007 dia mendapat penghargaan Kalpataru tingkat Nasional.

Tong pembakaran
Bapak empat anak ini bukan orang yang mendalami sampah secara akadimis. Semua bermula sikitar tahun 1999-2000 ketika dia bertugas di dinas Perumahan dan Penyehatan Lingkungan Kota Surabaya. Sudarno berpikir, apa pun tugas ang diemban dinas itu, pasti tak jauh dari persoalan sampah.
Suatu hari dia berjalan-jalan ke tempat pembuangan akhir (TPA) yang berlokasi di Keputih. Di tempat itu dia melihat mesin pembakaran sampah yang berjalan “setengah-setengah”. Mesin itu berjalan hanya jika ada kunjungan para pejabat pemerintah kota. Selebihnya, hanya pemulung yang duduk-duduk di sekitar. Belum lagi bau sampah yang menyengar, bahkan jauh sebelum masuk areal TPA.
“Seharusnya saya sebagai orang teknik bisa menciptakan alat pembakaran sampah yang setiap saat berfungsi dan bisa mendaur ulang semua jenis sampah,” tutr lulusan D-3 institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Jurusan Konstruksi ini.
Maka, Sudarno mulai bereksperimen di rumahnya. Sebuah dandang nasi milik istrinya dimodifikasi sedemikian rupa hingga menjadi tempat pembakaran sampah. Dandang itu ditutup rapat-rapat. Alat tersebut memang bisa membakar semua jenis sampah, organik dan non organik. Sayang, umurnya hanya tiga bulan, dandang itu lalu meledak.
Akan tetapi, dia tak patah semangat. Ia terus mencoba membuat tempat pembakaran yang lebih besar. Kali ini Sudarno menggunakan sebuah tong yang biasa dipakai menyimpan oli atau minyak tanah. “Saya menduga, dandang meledak karena suhu di dalam terlalu tinggi. Lagi pula tak ada tempat keluar asapnya,’ katanya.
Belajar dari pengalaman, ia memanfaatkan sebuah pipa agar asap pembakaran bisa keluaar. Ciptaannya sukses. Namun, para tetangganya keberatan sebab asap yang keluar sangat mengganggu. Dia pun berhenti bereksperimen dengan tong dan mulai membuat Batem.

Tayangan televisi
Tahun 2004 Sudarno melihat tayangan televisi yang menyorot masalah sampah di Surabaya. Saat itu dia berkantor di Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya. Dia melihat seorang anak sedang belajar di atas tumpukan sampah dengan masker menutup hidung dan mulut. Cukup lama juru kamera mengambil adegan itu. Ditampilkan pula gambar beceknya jalanan di sekitar lokasi karena rembesan air sampah.
“Saya tertegun melihat gambar itu, bagaimana anak-anak bisa pintar kalau belajar di tempat yang bau? Pasti akhirnya mereka memilih tidak belajar,” katanya.
Dia kembali bereksperimen dengan tebu untuk menghilangkan bau sampah. Setahun kemudian MBS berhasil diciptakan. Untuk menguji coba cairan penghilang segala bau itu, ia bergerilya keliling kampung, menyemprotkannya pada tong sampah millik para tetangga. Ini dia lakukan hampir tiap pagi.
Said Munaji, tetangganya, berujar, “Rupanya dulu Bapak nyemprot sampah saya dengan cairan itu, pantas tiba-tiba tong sampah saya tidak bau, tidak ada lalatnya.”
Said bercerita, tak banyak tetangga yang tahu kalau Sudarno punya cairan ajaib penghilang bau. Namun, para tetangga tak keberatan ketika Sudarno mengubek-ubek sampah mereka dan menyemprot di sana-sini. Warga umumnya tak peduli dengan sampah.

Sekarang MBS sedang dalam proses paten. Begitu manjurnya MBS, beberapa perusahaan sampai memesan cairan itu dalam jumlah besar.
Pada saat yang sama Sudarno juga bereksperimen membuat Tongnopos. Dia kerap meminta hingga berkarung-karung sampah organik milik para tetangga untuk dijadikan pupuk cair yang diolah dalam tongnopos. Logika yang dipakai Sudarno sederhana, “Air sampah organik itu bukan racun karena kebanyakan sayur-sayuran yang biasa kita makan.”
Air yang keluar dari Tongnopos bisa disiram pada tanaman. Fung-sinya menyuburkan tanaman. Sekarang MBS sedang dalam proses paten. Begitu manjurnya MBS, beberapa perusahaan sampai memesan cairan itu dalam jumlah besar.
Sembari terus bereksperimen mengolah sampah, Sudarno juga mewariskan pengetahuan itu kepada masyarakat. Dia kerap di undang ke berbagai tempat untuk mengajarkan cara pembuatan Batem. Baginya, apa yang di lakukan itu hanya “secuil kuku” untuk sebuah upaya raksasa memberantas sampah di negeri ini. Semoga saja pemerintah mau serius mengurus sampah menjadi benda yang bermafaat.

Teknologi Pemupukan

Ketika Lahan Mulai Tandus
Teknologi Pemupukan

Lampu kuning ketahanan pangan di negeri ini mulai menyala. Tanda itu terlihat pada tanah pertanian yang mengering hingga tandus dan mulai banyak ditinggalkan petani.

Oleh Yuni Ikawati
Itu belum termasuk ancaman lain, seperti gagal panen karena hama dan anomali cuaca serta aspek non-teknis yang melemahkan daya saing petani.
Terpuruknya sektor pertanian sebagai lumbung pangan ratusan penduduk berarti pula mengancam ekonomi dan kedaulatan negeri yang berslogan “Gemah ripah loh jinawi” ini. Lalu, adakah cara membenahinya ?
Bicara pangan pokok, perhatian kita umumnya masih mengarah kepada padi atau beras. Itulah yang membuat Indonesia menggenjot produksi padi hingga dapat berswasembada beras pada tahun 1984.
Langkah Indonesia dan negara Asia lainnya dalam mengembangkan teknologi persawahan modern populer dengan sebutan Revolusi Hijau. Revolusi ini pada abad lalu berhasil menyelamatkan bangsa di Asia, termasuk Indonesia, dari bencana kurang pangan dalam hal ini beras.
Ada tiga faktor kunci dalam melaksanakan revolusi itu, yaitu varietas padi unggul, irigasi, dan pupuk. Teknologi pembuatan pupuk difokuskan pada nitrogen (N) sebagai unsur hara penting bagi kehidupan tanaman, yamg mulai diproduksi tahun 1913.
Ironisnya, Indonesia kini kembali di ambang krisis beras dan mulai bergantung pada beras impor yang kini ketersediaannya di pasar dunia terus berkurang. Kondisi ini jelas mengancam Indonesia yang jumlah penduduknya terus membengkak dan belum mampu mengurangi ketergantungan dari produk pertanian tersebut.
Lalu, para pakar teknologi pertanian kembali menilik teknologi yang diterapkan selama Revolusi Hijau. Adakah yang salah? Menurut para pakar petanian, termasuk Widjang Herry Sisworo, pakar ilmu tanah dari Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), teknologi yang di alihkan negara maju ke negara berkambang itu kurang sesuai karena bersifat boros energi dan menguras sumber daya alam.
“Introduksi varietas baru padi hanya berhasil jika didukung penggunaan pupuk yang tinggi,” ujarnya. Kondisi ini memberatkan petani karena harga pupuk amonia yang dihasilkan dari industri petrokimia melonjak, sejalan dengan kenaikan harga minyak bumi. Sementara itu, produksi padi mengalami pelandaian sejak awal tahun 1990-an, yang naik hanya 0,2 persen hingga tahun 2004.
Tanah sawah beririgasi selama tiga dekade lebih terus dipacu untuk berproduksi tinggi melalui pemberian pupuk buatan, terutama N, dengan takaran yang terus meningkat. Laporan riset KG Cassman dan PL Pingali pada tahun 1995 bahkan mengungkapkan penggunaan pupuk N di sawah irigasi teknis telah melampaui batas.
Karena itu. Menurut mereka, harus dilakukan efisiensi penggunaan pupuk buatan sebab bahan baku produksinya terbatas dan mahal. Produksi pupuk buatan mengharuskan pembakaran 500 juta ton batu bara per tahaun. Artinya, akan teremisi gas karbon dan nitrogen oksida serta polusi nitrat dalam air tanah.


Azolla penambat Nitrogen (N)
Intensifikasi pertanian, karena itu, harus di arahkan untuk penyediaan N alamiah yang murah dan hemat enegi. Proses alamiah yang di maksud adalah fiksasi atau penambahan N ke dalam tanah secara biologis, yang secara global bisa mencapai sekitar 170 juta ton per tahun. Jumlah ini kira – kira tiga kali jumlah pupuk N yang digunakan di lahan pertanian.
Penambatan N dari udara pada tanah secara alamiah dihasilkan oleh tanaman paku air, yaitu Azolla. Hingga kini diketahui ada enam spesies Azolla yang tersebar di dunia, antara lain Azolla pinata dan Azolla caroliniana. Tumbuhan yang berasosiasi simbiotik dengan ganggang hijau biru (Anabaena azollae), misalnya, mampu menimbun 25 kg -30 kg N per hektar dalam 30 hari.
Penelitian yang dilakukan enam negara, yaitu Brazil, China, Indonesia, Filipina, Sri Lanka, dan Thailand, menunjukkan Azolla mampu menyediakan N bagi padi sama baiknya dengan urea. Azolla juga dapat menurunkan kemasaman tanah. Di Sri Lanka, Azolla di persawahan dapat meningkatkan efisiensi pemanfaatan pupuk hingga 56 persen dan meningkatkan hasil padi 35 persen di Thailand.

Fungsi bahan organik
Intensifikasi padi selama ini disertai pemberian bahan organik yang sangat minim. “Keadaan ini mengakibatkan tanah menjadi ‘sakit’ dan ‘lapar’ ,” kata Widjang yang juga menunjuk dominasi nitrogen dalam tanah.
Padahal, bahan organik diperlukan sebagai sumber karbon yang merupakan “pakan” dan energi bagi metabolisme dan perkembangbiakan jasad renik penghuni tanah. “Karen itu, dapat dikatakan pupuk buatan adalah pakan bagi tanaman, sedangkan bahan organik makanan untuk tanah,” ujar Widjang, yang meraih doktor ilmu tanah di Institut Pertanian Bogor (IPB).
Berdasarkan pemahaman itu, Widjang berpendapat, intensifikasi harus dilakukan dengan memanfaatkan berbagai sumber hara secara optimal. Peningkatan unsur N saja tidak akan menghasilkan produktivitas yang tinggi tanpa diikuti penggunaan fosfor (P), kalium (K), belerang (S), dan sing (Zn) dalam kadar yang memadai.
Pengoptimalan sumber hara juga dapat dikembangkan di lahan kering atau terdegradasi kesuburannya. Tanah itu kadar nitrogen dan airnya tak memadai bagi kehidupan tanaman.
Widjang yang dikukuhkan sebagai profesor riset bidang pertanian di Batan, April 2006, mengemukakan, penambatan N biologis juga dapat mengoreksi minimnya kadar bahan organik sehingga dapat memperbaiki kesuburan tanah dan meningkatkan kemampuan tanah “memegang” air. Selain itu, bertambahnya kandungan bahan organik tanah juga meningkatkan aktivitas biologis jasad renik, proses pendauran, dan transformaasi unsur hara dalam tanah.
Sebaliknya, rendahnya kandungan bahan organik membuat struktur tanah buruk sehingga tanah mudah tergenang air, peka terhadap erosi dan kekeringan. Pengembangan lahan kering menjadi lahan pertanian yang produktif juga memerlukan reduksi keasaman tanah yang menyebabkan terjadinya keracunan aluminium dan mangan.

Gerakan pengomposan
Menurut Prasetyo Sunaryo, peneliti dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, unsur hara terus berkurang karena terbawa tanaman yang dipanen hingga membuat tanah tandus.
Ia melihat daur unsur hara terputus. “Sampah organik sebagai hasil sisa pemanfaatan produk pertanian yang berasal dari desa ditumpuk di tempat pembuangan sampah di perkotaan. Harusnya dikembalikan desa, menjadi pupuk kompos. Karena sampah organik adalah sumber hara bagi tanaman.
Pemberian pupuk buatan membuat tanah mengeras. Sebaliknya, dengan pupuk kompos dapat mengembalikan kegemburan tanah. Karena itu, perlu digalang gerakan pengomposan sampah untuk memperbaiki lahan tandus sekaligus mengatasi kelangkaan pupuk di pedesaan dan mengurangi subsidi pupuk buatan yang masih diimpor.
Membuat Peternakan Cacing Sendiri

Di jaman yang serba sulit ini, kita harus lebih jeli melihat peluang yang ada di depan mata. Pekerjaan yang "agak kotor" sedikit (atau dirty job dalam bahasa inggris) bukan lagi halangan untuk menggarapnya menjadi ladang usaha yang menjanjikan. Sebenarnya jenis pekerjaan yang dimaksud cukup banyak. Namun, dalam kesempatan ini yang berkesempatan untuk dikupas lebih dalam adalah seputar beternak cacing tanah (Lubricus rubellus).

Hasil yang Dapat Diharapkan
Dalam melakukan usaha ternak cacing ini, setidaknya ada tiga hal yang dapat diharapkan sebagai hasil kerjanya, yaitu:
*1. Cacing itu sendiri, yang saat ini cukup banyak sekali pemanfaatannya, seperti untuk obat, kosmetik, serta bibit untuk produksi cacing selanjutnya.
*2. Tanah bekas tempat hidup cacing yang dapat digunakan sebagai media tanam yang sangat subur.
*3. Pupuk cair yang merupakan cairan pembuangan cacing yang sangat bermanfaat untuk kesuburan tanaman.
Pemanfaatan cacing tanah untuk pembuatan pakan ikan alternatif.
Semua hasil produksi tersebut dapat Anda jual maupun gunakan untuk kepentingan sendiri sebagai penunjang kegiatan produksi selanjutnya.
Peralatan dan Perlengkapan yang Dibutuhkan
Langkah pemeliharaan cacing
Untuk menunjang kegiatan produksi cacing tanah, dibutuhkan beberapa perlengkapan dan peralatan yang mudah diperoleh pada lingkungan sekitar kita dan banyak dijual di toko peralatan pada umumnya. Peralatan dan perlengkapan itu antara lain :
1. Kotak untuk memelihara cacing, dapat memakai papan kayu atau bahan dari plastik maupun dari kaca. Jangan lupa untuk melubangi bagian bawah kotak sehingga dapat menampung ‘pupuk cair’ yang keluar.
2. Kompos sebagai media hidup cacing yang akan dibudidayakan.
3. Sampah sisa makanan atau sampah organik lainnya.
4. Ember dengan penutup.
5. Penutup kotak cacing yang dapat dibuat dari kayu dan kawat jaring.
6. Minyak atau oli untuk menghalau serangga yang tidak diinginkan, misalnya: semut, kecoa, dll.
7. Sarung tangan karet.
8. Bibit cacing tanah.
Setelah peralatan dan perlengkapan sudah disiapkan, proses untuk melakukan pembudidayaan dapat dimulai.
Ada lima tahapan utama untuk membudidayakan cacing tanah,
yaitu :
1. Masukkan kompos setinggi 15cm ke dalam kotak pemeliharaan secara merata.
2. Potong kecil-kecil sisa-sisa makanan atau sampah organik untuk kemudian dimasukkan ke dalam kotak pemeliharaan.
3. Tambahkan sedikit air ke dalam media hingga cukup basah dan gembur.
4. Aduk semuanya hingga tercampur merata. Anda dapat menggunakan sarung tangan yang telah disiapkan jika merasa jijik.
5. Perlahan masukkan bibit cacing tanah ke dalam kotak pemeliharaan.

Lokasi yang terlindung dari hujan dan sinar matahari yang berlebihan.

Cara untuk mengetahui apakah cacing merasa nyaman di tempat hidupnya
Anda dapat memperhatikan perilaku cacing-cacing tersebut untuk mengetahui tingkat kenyamanan kotak pemeliharaan. Jika cacing masuk ke dalam media, maka mereka cukup merasa nyaman dengan kotak pemeliharaan. Sebaliknya, jika cacing-cacing tersebut mencoba naik ke permukaan, itu tandanya kotak pemeliharaan kurang nyaman untuk mereka. Ketidaknyamanan cacing pada kotak pemeliharaan bisa dikarenakan kurangnya kelembaban, kurangnya ventilasi, atau ada zat pencemar yang tidak disukai cacing, seperti zat kimia tertentu dalam media.

Langkah-langkah untuk Pembudidayaan
Desain kotak pemeliharaan cacing
Cara memberi makan cacing
* Potong kecil-kecil makanannya (ingat­lah bahan-bahan yang dilarang)
* Simpan dalam ember tertutup selama 2-3 hari agar terfermentasi
* Buatlah lubang pada media dan masukkan makanan dari ember tadi
* Tutup lagi dengan media perlahan-lahan (hindari alat yang tajam)

Cara menjaga kelembaban kotak pemeliharaan
Tambahkan kompos dan aduk-aduk, jaga jangan sampai media menjadi padat. Jika terlihat kering tambahkan makan­an yang banyak mengandung air.



Hal-hal Lain yang Perlu Diketahui dalam Budidaya Cacing Tanah
Cacing sangat bagus dalam memanfaatkan sisa makanan untuk diubah menjadi pupuk yang disebut “KASCING” & “Pupuk Cair” yang sangat bermanfaat untuk kebun anda. Tapi ingat: cacing adalah makhluk hidup yang memerlukan perhatian yang cukup dalam peme­liharaannya. Pastikan mereka tidak diberi makanan yang dapat membuat mereka sakit.

Jangan memasukkan benda-benda berikut ini dalam kotak pemeliharaan:
-Ampas kopi atau teh
-Minyak atau yang berminyak
-Bahan yang mengeluarkan bau keras
-Sabun atau bahan kimiaTulang atau daging
-Buah yang masam (jeruk)
-Garam atau gula

Berapa banyakkah cacing makan?
Kurang lebih sama dengan berat cacingnya. 1 kg cacing butuh 1 kg makanan. Beri makan paling tiga hari sekali.

Hewan-hewan yang harus dijauhkan dari lokasi pemeliharaan
-Tikus
-Semut
-Ayam
-Bebek
-Kadal
-Katak
Sekian dulu pembahasan mengenai budidaya cacing tanah. Semoga dapat diterapkan dan memberi manfaat bagi kita.

Minggu, 29 November 2009

Pembuatan Pelet Ikan dari Cacing Tanah

Pembuatan Pakan Ikan Alternatif dari Cacing Tanah
(Lubricus Rubellus)

Cacing tanah merupakan hewan yang berpotensi menjadi bahan makanan. sumber protein tinggi. Budidaya cacing tanah relatif mudah, efisien dan murah, dimana untuk membudidayakan cacing ini hanya dibutuhkan suatu media berupa kompos (dalam kehidupan sehari-hari digunakan untuk menguraikan sampah organik).
Kotak untuk pemeliharaan cacing
Sisa dan media ini selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk pupuk tanaman, karena penguraian sampah organik oleh cacing tanah banyak menghasilkan unsur hara yang sangat dibutuhkan bagi pertumbuhan tanaman. Berkaitan dengan potensi cacing tanah sebagai bahan makanan sumber protein tinggi, pemanfaatannya sangat beragam seperti:
a. Untuk bahan campuran kosmetika.
b. Sebagai makanan suplemen kesehatan.
c. Bahan obat-obatan terutama yang menyangkut dengan antibiotik.
d. Sebagai pakan ternak.
Komposisi nutrisi Lumbricus rubelius adalah sebagai berikut:
*Protein Kasar : 60 - 72%
*Lemak : 7 - 10%
*Abu : 8 - 10%
*Energi :900 - 4100 kalori/gram.
Dengan memperhatikan komposisi nutrisinya, maka di dunia perikanan,cacing tanah ini berpotensi untuk dijadikan sebagai bahan ransum makanan ikan

Cacing segar siap untuk dipanen
Seperti diketahui bahwa untuk pertumbuhan ikan, sangat ditentukan oleh kandungan protein dalam makanannya. Mengingat kandungan protein cacing yang cukup tinggi (lebih tinggi dari ikan dan daging) serta komposisi asam amino esensial yang lengkap sehingga, dapat diperkirakan bila cacing tanah ini dapat dimakan oleh ikan akan dapat memacu pertumbuhan dan menghasilkan ikan yang sehat serta tahan terhadap serangan penyakit


ALAT, BAHAN, DAN METODE
Peralatan yang digunakan adalah:
*Alat Penggiling Tepung
*Alat Penggiling Daging
*Baskom

Bahan:
a. Tepung Cacing : 41%
b. Telur ayam : 20%
c. Terigu : 14%
d. Dedak : 18 %
e. Kanji :1%
Untuk membuat tepung cacing, langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :
1. Cacing segar dipisahkan dari medianya.
2. Cacing segar ini di cuci/bilas dengan air bersih, lalu ditimbang.
3. Cacing segar dijemur oleh panas matahari di atas seng dalam 24 jam (suhu udara 32 - 35 derajat celcius).
4. Cacing yang sudah kering kemudian dibuat menjadi tepung dengan menggunakan penggiling tepung.
5. Tepung cacing ditimbang dan siap untuk digunakan.

Untuk menjadikan pelet, bahan-bahan yang dipersiapkan adalah kuning telur ayam yang telah direbus, tepung kanji, terigu, dedak, tepung cacing, masing-masing ditimbang sesuai dengan analisis bahan.
Langkah-langkah pembuatan pelet ikan sebagai berikut :
*Semua bahan dicampur dan diaduk menjadi satu.
*Tambahkan air hangat secukupnya hingga adonan menjadi cukup kenyal. Penggunaan air harap diperhatikan seminim mungkin penggunaannya.
*Setelah adonan terbentuk selanjutnya dicetak dengan mesin penggiling daging sehingga menghasilkan pelet basah yang panjangnya seperti mie.
*Pelet basah tersebut dipotong per 0,5 cm membentuk butiran- butiran.
*Setelah itu pelet dijemur di panas matahari seharian.
*Kemudian pelet ditimbang dan siap digunakan
Untuk memperoleh pelet dengan kandungan protein 35%, maka susunan ransumnya adalah:

% Berat
*Tepung Cacing 47%
*Telur Ayam 20%
*Terigu 14%
*Dedak 18%
*Kanji 1%
(RAD)Sumber: Dinas Perikanan Propinsi DKI Jakarta, Brosur Informasi Proyek Peningkatan Diversifikasi Usaha Perikanan

Memadukan Bisnis dan Penghijauan

Memadukan Bisnis dan Penghijauan

Awalnya, I Wayan Mertha tidak berpikir muluk-muluk saat menanam berbagai jenis bibit pohon di antara tanaman kakaonya di Desa Balinggi, Kecamatan Sausau, Kabupaten Parigi Moutong, sekitar 120 kilometer arah timur Palu, pada tahun 2000.

Oleh : Reny Sri Ayu Taslim
Tanaman kakao harus dilindungi dengan tanamn lebih besar dan rimbun demi mendapatkan buah-buah yang bagus,’ cerita Wayan Mertha mengenai pemikiran sederhananya waktu itu.
Selain itu, ia juga berharap, tanaman pelindung tersebut suatu saat bisa dipanen dan menghasilkan uang. Di sisi lain, untuk lingkungan sekitarnya, tanaman pelindung juga dapat berfungsi menguatkan tanah dan menyerap air.
Maka, Wayan Mertha pun menanam berbagai jenis tanaman berakar kuat, berdaun rimbun, dan berbatang beasr di antara tanaman kakao. Bibitnya dia pungut di hutan sekitar kebunnya. Pembibitan dia lakukan sendiri hiungga menjadi anakan pohon siap tanam.
“ Saat itu, banyak yang mencemooh dan menertawakan apa yang saya lakukan. Kata mereka, ngapain tanam pohon, enggak ada untungnya, enggak bisa jadi uang. Lagi pula, orang-orang pada menebang pohon, saya malah menanam pohon,” tutur Wayan Mertha.
Dicemooh, dia bergeming. Dengan tekun, ia terus menanam bibit pohon, seperti meranti, palupi, nantu, dan durian. Khusus pohon durian, Wayan tidak menanam untuk mengambil buahnya, tetapi lebih memanfaatkan batang kayunya.
Suami Ni Wayan Aryani ini tak peduli bahwa penanaman pohon itu mengakibatkan tanaman kakao miliknya jadi tak sebanyak di kebun orang lain yang memenuhi kebunnya hanya dengan tanaman kakao. Namun, kebun sekaligus hutan kecil Wayan Mertha itu terus bertambah sedikit demi sedikit karena ia membeli lahan terbengkalai di sekitar kebunnnya. Luas kebunnya pun mencapai 17 hektar.
Ketekuna Wayan kemudian mulai membuka mata warga sekitarnya, terutama pera pemilik kebun. Sebab, pohon kakao di kebun Wayan ternyata tumbuh lebih subur dan berbuah lebih bagus dibandingkan kakao di kebun milik petani lainnya. Selain itu, tanah di kebunnya juga menjadi lebih subur. Sumber airnya pun tak pernah kering pada musim kemarau sekalipun.
“Warga lain lalu mulai ikut menanam pohon diantara tanaman kakaonya, atau menebang tanaman kakao yang sudah tua dan menggantinya dengan tanaman pohon. Bibitnya mereka ambil gratis dari saya. Memang, hampir sepanjang waktu saya terus malakukan pembibitan dan memberikan kepada siapa saja yang mau,” katanya.

Industri Kayu
Mata warga sekitar betul-betul terbuka, bahkan tidak sedikit yang terenyak ketika, Agustus lalu, Wayan Mertha memanen tanaman pohon yang sudah berumur dari lahan sekitar satu hektar. Kayu dari hutan miliknya itu dijual dengan harga “lumayan”. Bahkan, ia bisa membuat industri kayu kecil-kecilan untuk mengolah kayu dari hutannya tersebut.
“Tetapi, saya tidak memanen pohon dengan begitu saja. Jauh sebelum saya panen, saya sudah menanam anakan pohon disejumlah luas areal, atau batang yang saya panen. Jadi, lahannya tidak akan kosong. Lagi pula, pola penanamannya saya atur juga agar panen tidak serentak, melainkan bergiliran sesuai usia pohon dan besarnya anakan yang ditanam,” ceritanya.
Wayan Mertha sejauh ini sudah terbilang berhasil memadukan bisnis dan penghijauan, dengan mengawinkan kebun dan hutan. Dari sisi penghijauan, lahan kosong yang semula terlantar kini sudah penuh tanaman dan menjelma menjadi hutan.
Dari sisi bisnis, kayu yang ditanamnya pun menghasilkan uang. Bahkan seperti virus, apa yang dilakukan Wayan Mertha mulai menjalar kepada para pemilik kebun lainnya. Di sekitar kebunnya saja sudah ada 50-an petani yang mengikuti jejaknya.
Mukramin, Kepala Dinas Kehutanan Pargi Moutong, bahkan mengakui, konsep bisnis dan penghijauan yang dilakukan Wayan Mertha dijadikan percontohan oleh dinas kehutanan untuk disosialisasikan kepada para pemilik kebun yang lain.
“Masyarakat sudah mulai mengikuti apa yang dilakukan Wayan. Dampaknya, selain menjaga kesuburan tanah dan terpeliharanya sumber air, warga juga sedikit demi sedikit mulai sadar agar tidak menebang hutan sembarangan. Mereka sadar pada pentingnya fungsi tanaman pelindung, sekaligus melihat tanaman pelindung sebagao investasi jangka panjang,” tutur Mukramin.

Manja dan seenak hati
Wayan Mertha adalah lelaki sederhana yang hanya tamat sekolah dasar. Sebagai anak tunggal diakuinya membuat dia menjadi manja dan berlaku seenak hati, termasuk tidak melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi.
Masa muda lebih banyak dia habiskan dengan bepergian dari satu tempat ke tempat lain. Keinginannya merantau keluar dari Bali, kendati pada awalnya ditentang orangtuanya, membawa Wayan ke Parigi Moutong pada tahun 1976. Saat ini ia sekadar mengikuti beberapa temannya yang sudah terlebih dahulu pergi ke Parigi.
Tanpa bekal keterampilan dan pendidikan mamadai, Wayan Mertha bertahan hidup dengan menjadi kenek. Hidup jauh dari orangtua dan sanak keluarga membuat dia sadar harus menata sendiri kehidupannya, dan tidak bergantung kepada orang lain. Terlebih saat ini ia memutuskan menikahi NI Wayan Aryani pada 1982.
Pendapatan jadi kenek dan buruh kasar sebagian dia tabung, dan digunakan untuk membeli sebidang sawah. Penghasilan dari sawah itu dia kumpulkan pula guna membuka usaha warung kecil-kecilan.
Seiring berjalannnya waktu, Wayan Mertha lalu membeli lahan kebun untuk bertanam kakao, Lahan yang semula Cuma sepetak terus bertambah. Dia kemudian mulai menanam pohon pada tahun 2000.
Pengetahuannya mengenai penanaman pohon, antara lain, diperoleh saat masih tinggal di Bali. Wayan bercerita, tempat tinggalnya di Bali berada di tepi hutan sehingga dia mengenal jenis-jenis pohon, termasuk bagaimana pemeliharaannya.
Belakangan, Wayan Mertha juga melakukan berbagai eksperimen menanam pohon dengan menggunakan batang pohon, bukan bibit.
Kalau semula menanam pohon sekadar melindungi tanaman kakaonya, kini Wayan Mertha terobsesi menghijaukan lahan gersang. Setidaknya hal ini sudah dia mulai dengan membeli 17 hektar lahan kosong di Kayumalue, Palu. Lahan ini akan dia tanami berbagai jenis pohon. Penanaman dilakukan pada November ini, bersamaan dengan datangnya musin hujan. “Menanam pohon itu mudah, yang penting bibitnya bagus, anakan yang ditanam sudah cukup umur, dan waktu penanamannya tepat. Kalau akarnya sudah cukup kuat, dibiarkan saja juga tidak jadi soal karena pohon akan tumbuh alami. Setelah itu kita tinggal menikmati hasilnya, baik dampaknya pada lingkungan, maupun sebgai tambahan penghasilan,” tutur Wayan Mertha bersemangat.

Ekstrak Tanaman Untuk Atasi Hama

Arinafril, Ekstrak Tanaman untuk Atasi Hama


Dalam pandangan Arinafil (42), yang selama bertahun-tahun meng-geluti penelitian tentang hama tanaman dan lingkungan di Indonesia, sejumlah hama tanaman sesungguhnya dapat diberantas dengan me-manfaatkan tanaman yang terdapat di Tanah Air.

Oleh : BM Lukita Grahadyarini

Menurut Arinafil, Indonesia punya kekayaan keragaman hayati yang luar biasa. Jika digunakan secara optimal, hal itu akan memberikan lebih banyak manfaat bagi manusia dan lingkungan.
Ia menelusuri, dari 37.000 spesies flora Indonesia yang telah diidentifikasi, baru sekitar satu persen yang dimanfaatkan untuk biopesti-sida. Berlandaskan hal itu, pria yang menjadi pengajar di Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya (Unsri), Sumatera Selatan, ini giat menggali kegunaan tana-man bagi pemberantasan hama.
Sejak 1997 Arinafil membuat ekstrak tanaman untuk biopestisida. Biopestisida yang dia ciptakan memiliki kegunaan mematikan, menghalau, serta menghambat perkembanagan ulat dan serangga yang menjadi hama pada tanaman dan tempat penyimpanan makanan. Selain itu, juga meng-hambat penetasan telur pada keong mas yang kerap menjadi hama padi.
Sebagian tanaman yang diolah menjadi biopestisida merupakan tanaman yang banyak ditemukan dan dipelihara masyarakat. Dalam proyek-proyek penelitian, ia kerap melibatkan para mahasiswa.
Tahun 1997 itu pula ia membuktikan khasiat ekstrak jahe dan temu putih untuk menghambat serangan ulat kubis (Plutella xylostella Linn). Daun kubis yang diberi ekstrak itu akan menjadi toksin atau racun yang mematikan ulat.
Ia juga membuat ekstrak tanaman dari temu putih, biji nimba, daun kenanga, biji selasih, serta daun avokat yang masing-masing berfungsi mencegah serangan kutu pada tempat penyimpanan beras dan kacang-kacangan. Beberpa jenis kacang-kacangan, seperti kacang hijau, kedelai, kacang merah, dan kacang tanah, yang dilumuri ekstrak tersebut akan awet disimpan sampai enam bulan.
Khasiat serupa ditemukan pada tanaman bawang putih, bunga kemuning, kulit jeruk, lengkuas, kunyit, temu hitam, cabai merah, tembakau, dan kulit duku. Cairan ekstrak bunga kemuning bahkan efektif mematikan kumbang kacang hanya dengan kadar 1,12 persen.
Beberap ekstrak yang dihasilkan juga memiliki kegunaan lebih. Ekstrak bunga kenanga, lengkuas, jahe, kunyit, umbi bawang putih, dan daun nimba tidak menghambat perkecambahan benih kacang hijau sehing-ga aman untuk ditanam meskipun disimpan dalam waktu lama.
Pembuatan ekstrak tanaman dilakukan secara sederhana, meliputi metode tepung, rendam, pasta, dan campuran air. Pada ekstraksi jahe yang menggunakan metode tepung, rimpang jahe dibersihkan, dikupas, dan di-haluskan menjadi tepung. Kemudian, serbuk jahe dicampur dengan beras atau kacang-kacangan guna mempertahankan masa penyimpanan makanan tersebut.
Jahe juga bisa diolah melalui metode pasta. Jahe yang sudah dihaluskan dicampur air agar membentuk adonan, lalu dimasukkan ke kantong dan diperas. Ke dalam cairan perasan dicelupkan beras dan kacang-kacangan.
Pada tahun 1998 ia membuktikan, campuran ekstrak serai wangi, biji nimba, dan lengkuas yang disemprotkan pada belalang kembara (Locusta migratoria) muda akan mematikan hama itu hanya dalam waktu sekitar 30 menit. Cairan ekstrak dari tiga tanaman tersebut meracuni jaringan sel serangga yang ganas menyerang hamparan padi dan perkebunan di Nusa Tenggara Timur pada kurun 1998 – 2007.
Tahun 1999 ia kembali membuat cairan ekstrak biji nimba yang memiliki daya untuk mematikan 70 persen telur keong mas yang banyak terdapat di daun padi dan tunggul-tunggul sawah. Ekstrak yang disemprot ke kumpulan telur keong mas merusak sel-sel telur dan memutus per-kembangbiakkan hewan yang kerap merusak tanaman padi itu.
Pada tahun 2001 ia diminta membantu pencegahan hama kutu daun pada tanaman kacang pea, sejenis kacang kapri yang tumbuh di Jerman. Untuk keperluan itu, ia memanfaatkan cairan ekstrak lengkuas.
“Ekstrak lengkuas bersiaft sistemik, diserap akar tanaman, dan dibawa ke jaringan daun. Ekstrak racun yang terkandung dalam daun akan mencegah serangan kutu daun,” papar Arinafril.
Di atas semua penelitian itu, pria yang menjabat Ketua Laboratorium Toksikologi Pestisida Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Unsri ini memiliki Obsesi menularkan teknologi sederhana pembuatan ekstrak tanaman kepada para petani di Indonesia.

Murah dan aman
Ia berharap teknologi ekstraksi tanaman dapat ditiru petani. Ini untuk mengurangi ketergantungan petani pada pestisida sintetis yang harganya lebih mahal dan berpotensi meninggalkan sisa racun (residu) pada tanaman pangan sehingga membahayakan tanaman dan kesehatan konsumen. Namun, itu pun masih menjadi kendala karena kurangnya sarana penyebaran informasi kepada petani.
Biopestisida yang terbuat dari bahan-bahan alam tidak meracuni tanaman dan mencemari lingkungan. Pemakaian ekstrak bahan alami secara terus-menerus juga diyakini tak menimbulkan resisten pada hama, seperti yang biasa terjadi pada pestisida sintetis.
“Jangan dulu membeli obat-obatan atau pestisida selagi masih bisa membuat biopestisida dengan memanfaatkan bahan baku dari alam,” kata Arinafril.
Pria ini berpandangan, masih banyak tanaman Indonesia yang berpeluang besar untuk dimanfaatkan sebagai obat pemberantas hama. “Tanaman yang semasa tumbuhnya tidak diserang hama berpotensi me-miliki kandungan senyawa yang memberi efek racun pada hama. Jika potensi itu digali, banyak tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk mengusir hama pada tanaman lain,” kata ayah tiga anak ini.
Beberapa penelitiannya di luar negeri terkait dengan pemberantasan hama telah teruji. Tahun 1993-1994 ia menggunakan ekstrak biji tanaman nimba untuk mengendalikan belalang gurun (Schiftocerca gregaria) yang banyak hidup di Afrika. Beberapa negara yang pernah di singgahinya untuk penelitian antara lain Jerman dan Australia.
September 2007 ini, Arinafril diminta melakukan penelitian di Clemson University, Amerika Serikat, untuk mengatasi hama ulat tentara pada tanaman kacang kedelai. Berkaitan dengan penelitian itu, ia berencana menggunakan ekstrak tanaman jahe-jahean.
Bagi Arinafril, penelitian selayaknya dilakukan secara kontinu agar hasilnya bisa dikembangkan optimal. Sayangnya, penelitian di Indonesia kerap terbentur dana akibat minimnya perhatian dan dukungan pemerintah. “Keterbatasan dana menyebabkan peneliti terpaksa mengakhiri suatu penelitian setelah proyek penelitian itu usai sehingga kontinuitasnya kurang. Hasil penelitian pun tak bisa dikembangkan maksimal,” ungkapnya

Semua Karena Jasa Cacing

*Semua Karena Jasa cacing

Ignatius Sumarwoko tak berharap banyak ketika menanam padi. Ia menyadari kondisi tanahnya, di Desa Donokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Yogyajarta, amat tandus, miskin hara, dan kering. Oleh karena itu menanam padi di desanya hanya usaha sampingan. Namun, ia mampu memanen 2,6 ton gabah kering dari lahan 8.000 m2.
Angka itu memang jauh di bawah produktivitas rata-rata padi organik di lahan subur yang berkisar 7 – 8 ton /ha. Namun, bagi Igantius Sumarwoko biasa dipanggil Woko hasil itu menggembirakan. Pasalnya, tanah yang ditanaminya itu miskin hara akibat ditanami tebu dan penggunaan pupuk kimia terus-menerus selama 20 tahun. Saat petani lainnya puso pada Juni 2006, ia malah memetik 8 kuintal gabah kering dari lahan 6.000 m2.
Dengan harga jual beras organik Rp. 7.500,- per kg, pria kelahiran 18 Oktober 1959 itu menangguk pendapatan Rp. 15 juta. “Rendemennya cukup tinggi, dari 2,6 ton gabah menjadi 2 ton beras,” tutur Sumarwoko. Bulir padi berukuran padat, bernas dan lebih besar. Padahal, biasanya dari volume yang sama ia hanya memperoleh 650 kg beras. Produksi dan rendemen padi itu meningkat setelah Sumarwoko menggunakan Kascing alias Kotoran cacing.
Untuk lahan 8.000 m2, ia menambahkan 1,2 ton Kascing setelah pengolahan tanah dan sebelum penanaman. Dengan harga kascing Rp. 15.000 per 20 kg, ia memang menggelontorkan dana Rp. 900.000. bandingkan ketika ia belum menggunakan kascing, Woko menghabiskan 6 kuintal pupuk kimia senilai Rp. 600.000. Setelah memanfaatkan vermikompos alias kascing biaya produksi memang lebih besar, tetapi laba bersih yang ditangguk kian besar.
Ia memanfaatkan kascing pertama kali pada November 2005 untuk mengembalikan kesuburan tanah yang miskin hara. “Saya tak mengharapkan hasil tinggi. Yang penting tanah subur dulu,” kata Woko. Ia kaget produksi padi meningkat 1,5 kali lipat. Sejak itulah ia rutin memanfaatkan kascing untuk budidaya padi organik. Produksi komoditas lain seperti ubijalar dan jagung yang dibudidayakan dengan kascingpun hasilnya melonjak.

Meningkat
Lain lagi pengalaman Ata, pekebun di Cilubang Tonggoh, Kabupaten Bogor, jawa Barat. Penanaman ubijalar dan jagung yang menggunakan kascing hasilnya melambung tinggi. “Ukuran umbi-umbijalar lebih besar, hingga 2 kali lipat,” tutur Ata. Padahal semula Ata ragu saat ditawari kascing. Saat itu ia menganggap harga beli kascing Rp. 17.500 per 20 kg terlalu mahal. Lagi pula ia tak yakin produksi tanaman maksimal. Setelah produsen kascing siap menanggung kerugian, ia membagi dua lahannya masing-masing seluas 600 m2.
Pupuk untuk masing-masing lahan itu berbeda. Di lahan A sebut saja begitu, ia menebar 200 kg kascing; lahan B, pupuk kimia. Tanah langsung ditanami bibit ubi jalar Ipomoea batatas dan disirami hingga basah.
Pada bulan pertama, pertumbuhan tanaman di lahan B lebih pesat ketimbang ubijalar yang dipupuk kascing. Namun pada bulan ke-2, tanaman yang dipupuk kascing tumbuh pesat. Yang meng-gembirakan bobot ubijalar di lahan A mencapai 1,6 kg per tanaman atau total 1,2 ton; lahan B, tak lebih dari 1 kg per tanaman atau 7 kuintal.
Penggunaan kascing pada budidaya jagung juga meningkatkan produksi hingga 40%. “Selain ukuran tongkol lebih besar, rasanya lebih manis,” kata pria 59 tahun itu. Bagaimana duduk perkara produksi melonjak setelah tanaman diberi Kascing ? Menurut ahli budidaya tanaman Ir Yos Sutiyoso, tingkat kepadatan bahan organik termasuk vermikompos sangat rendah. Sebagai gambaran, 1 m3 kascing setara 100 kg. Bandingkan dengan tanah yang mencapai 800 – 1.300 kg. Karena kepadatan rendah, tanah menjadi remah, dan kaya oksigen. Sumarwoko dan Ata sepakat tanah mereka menjadi lebih gembur setelah dipupuk kascing. Rongga-rongga pupuk kotoran cacing itu juga mampu menahan air 40 – 60%. Yos Sutiyoso mengilustrasikan: orang yang berlari di tanah lapang lebih mudah dan lebih cepat. Sebaliknya, jika berlari di area yang padat dan penuh rintangan lebih sulit dan lebih lambat. Orang yang berlari itu adalah akar, sementara area padat dan rintangan adalah tanah nonporous, sangat padat. Sebaliknya tanah remah yang diberi kascing ibarat area lapang.

Kaya Nutrisi
Dampaknya akar tanaman lebih leluasa mencari unsur hara. Di ujung akar terdapat rambut akar yang panjangnya 2 cm. Jika tanah padat dan di sekelilingnya miskin hara, rambut hanya mampu bertahan 2 hari. Sebaliknya, jika tanah remah dan kaya nutrisi, rambut akar bertahan hingga 2 pekan. Karena pasokan nutrisi memadai, per-tumbuhan pun cepat. Hasil akhir dari kondisi itu adalah pening-katan produksi.
Selain itu, kascing pun mengandung humus yang kaya asam humik, asam fultik, dan humin yang mampu menjaga kelembapan dan kegemburan tanah. Berdasarkan riset Norman Q seperti dinukil oleh European Journal of Soil Biology, mengungkapkan produksi lada yang diberi ekstrak asam humik dari vermikompos lebih banyak dibanding yang berasal dari asam humik komersial.
“Makin tinggi kadar asam humik, makin subur tanah itu,” ujar Dr Ir Mashur Ms, ahli tanah dan peneliti vermikompos di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Azotobacter sp, bakteri penambat nitrogen non-simbiosis yang mengandung vitamin dan asam pantotenat, membantu memperkaya nitrogen dalam vermikompos. Dengan segala kelebihan itu, vermikompos salah satu pilihan untuk menjaga tanah gembur, meningkatkan produksi tanaman, dan mendongkrak laba. Semua itu Karena Jasa Cacing.