Senin, 30 November 2009

Pupuk Organik Cair dari Urine Manusia

MEMANFAATKAN URINE MANUSIA
UNTUK PUPUK ORGANIK CAIR


Membuat PUPUK ORGANIK CAIR dari urine hewan ternak itu sudah biasa. Bagaimana jika urine yang digunakan adalah urine manusia alias air kencing kita sendiri ? sepertinya menjijikkan bahkan bagi sebagian orang mungkin "mengerikan". Tapi itulah yang terjadi di Purworejo, Jawa Tengah. Berikut ini adalah petikan laporannya yang kami ambil dari situs resmi pemerintah Kabupaten Purworejo. Resep ini telah dibuktikan oleh kelompok tani setempat jadi jangan ragu untuk mencobanya. Mungkin ada dari teman- teman berminat mencobanya...? silahkan mencoba dan semoga sukses....

MEMANFAATKAN URINE MANUSIA UNTUK MEMBUAT PUPUK ORGANIK CAIR
Kelompok tani tanaman pangan Ngudi Makmur Desa Bragolan Kecamatan Purwodadi, mengandalkan pupuk organic buatan sendiri untuk memupuk tanaman padi. PUPUK ORGANIK CAIR yang terbuat dari komposisi urine (air seni) manusia itu, terbukti menyuburkan tanaman sehingga menghasilkan produk padi yang lebih banyak. Menurut salah seorang pengurus kelompok tani Ngudi Makmur Purwo Budiyanto, PUPUK ORGANIK CAIR ini merupakan komposisi dari berbagai bahan alami dengan proses pembuatan yang sangat mudah. Bahan yang dibutuhkan hanya 5 liter urine manusia, 600 gram susu putih cair kalengan, 250 gram kunyit, 1 ikat daun orok-orok beserta akarnya, dan 5 sendok teh micin (penyedap rasa untuk masakan).
Cara pembuatannya juga relatif mudah. Kunyit diparut dan disaring untuk diambil airnya, sedangkan daun orok-orok beserta akarnya ditumbuk diambil airnya. Air kunyit dan air daun orok-orok dicampur dengan urine, susu cair, dan micin. Campuran bahan tersebut diaduk hingga rata, lalu direndam selama I minggu (7 hari)
Selama perendaman harus ditutup rapat dan disimpan ditempat sejuk. Realisasi pupuk cair itu menjadi seberat 500 cc dengan warna hitam kecoklatan. Sedangkan aplikasinya, setiap 250 cc dicampur 14 liter air. Kemudian disemprotkan ke daun tanaman padi. Lebih efektif ke daun bukan ke tanahnya, karena memang sasaran pupuk ini untuk daunnya, ujar Purwo yang didampingi Kasemo dan Pardi. Penyemprotan dilakukan pada tanaman umur 7-10 hari, dengan volume penyemprotan sebanyak 4 kali. Jarak penyemprotan pertama dan seterusnya antara 5 s/d 7 hari. Penyemprotan juga boleh dilakukan selama malai padi belum keluar. Tetapi kalau tanaman padi sudah mulai berbuah (mratak), jangan melakukan penyemprotan. Sebab akan mengganggu proses pembuahan tanaman padi, akibatnya padi lebih mudah rontok, kata Purwo. PUPUK ORGANIK CAIR ciptaan sendiri ini, telah diterapkan pada lahan sawah seluas 2000 meter persegi milik kelompok tani Ngudi Makmur di Desa Keduren Kecamatan Purwodadi. Kebutuhan pupuknya 500 cc kali 4 penyemprotan, sehingga totalnya 2000 cc PUPUK ORGANIK CAIR. Hasilnya sangat bagus dibanding tanaman di sebelahnya yang tidak menggunakan pupuk ini. Selain hasil tanamannya lebih bagus, dari segi biaya produksinya juga sangat hemat. Kelebihan pada tanamannya antara lain daun lebih hijau, pertumbuhan batang padi lebih panjang, malai lebih panjang, menambah peranakan padi, dan tanaman terlihat lebih kekar, serta buahnya lebih banyak. Bau yang ditimbulkan pupuk ini sangat menyengat, sehingga hama tidak mau mendekati tanaman. Kelompok tani Ngudi Makmur yang beranggotakan 36 orang itu, sengaja tidak merahasiakan cara pembuatan PUPUK ORGANIK CAIR hasil ciptaanya sendiri, justru sebaliknya pembuatan pupuk ini agar bisa diketahui siapa saja yang membutuhkan. Kami lebih mengutamakan pada sisi kesehatan yang dicanangkan pemerintah tentang go organik. Sehingga pembuatan PUPUK ORGANIK CAIR ini, tidak hanya untuk kelompok tani kami saja tetapi untuk bisa diterapkan kepada petani yang lain,katanya. Kelompok tani ini juga memiliki keyakinan tentang persahabatan dengan alam. Yakni alam sahabat manusia yang senantiasa mendukung manusia, tentu kita sebagai manusia harus bersahabat kembali dengan alam. Caranya melestarikan lingkungan dan memanfaatkan potensi lingkungan untuk dibudidayakan PUPUK ORGANIK CAIR, sehingga bias kembali ke alami.Selain membuat PUPUK ORGANIK CAIR kelompok tani Ngudi Makmur juga membuat penangkaran benih padi unggulan jenis baru. Yakni benih padi varietas ciboga dan benih padi varietas mekongga. Masing-masing benih dipasarkan dengan harga murah yaitu Rp 25 ribu per-sak ukuran 5 kg.

Sinergisme Tanaman Obat Indonesia

Susiani, Sinergisme Tanaman Obat Indonesia

“Pengetahuan obat tradisional landasannya tradisi. Selama tradisi dipegang, tak akan ada efek buruk. Saya meneliti, bukan karena ilmu saya melebihi nenek moyang. Saya justru belajar dari mereka. Yang saya lakukan adalah mencari pembenaran.”

Oleh : Amir Sodikin
Hal itu disampaikan Dr Susiani Purbaningsih DEA, peneliti tanaman obat, yang juga Sekretaris Pascasarjana Universitas Indonesia.
“Senyawa kimia apa saja yang berkhasiat sehingga dapat memberi alasan ilmiah mengapa nenek moyang kita menggunakan tanaman itu sebagai obat,” paparnya lagi.
Perjalanan para peneliti sampai kini belum mendapatkan kebenaran mutlak pada kadar berapa senyawa-senyawa itu bersinergi, dan bisa menjadi obat. Sinergi itu masih misteri dan terus diteliti. Susiani, salah satu biolog yang berusaha belajar memahami sinergisme itu.
Merasa tak cukup dengan laboratorium di kampus, dia membangun laboratorium di rumah dengan biaya sendiri. Laboratorium ini bahkan lebih memadai dibandingkan dengan labora-torium di kampus. Karena itu, banyak mahasiswa memanfaatkan laboratorium pribadinya.
“Labnya kecil, tetapi cukup untuk menjalankan penelitian, terutama kultur jaring,” kata Susiani yang sedang meneliti tanaman obat dan kloning anggrek.
Pekarangan rumahnya di daerah Cimanggis, Depok, Jawa Barat, dipenuhi anggrek dan tanaman obat yang diberi label nama agar bisa menjadi tempat belajar masyarakat. Selain mendalami tanaman obat, Susiani yang hobi anggrek juga ahli dalam bidang kloning anggrek.
Walaupun mengenyam pendidikan S-2 dan S-3 di Universitas Montpellier II Perancis, ahli fisiologi tumbuhan dan kultur jaring ini justru kembali menggali ide-ide penelitian dari pengetahuan tradisional nenek moyang. Sesuatu yang masih misteri bagi dunia ilmiah.
Bersama para mahasiswa, ia larut dalam penelitian pegagan (Centella asiatica) dan kemuning (Murraya paniculata). Pegagan mengandung asiaticoside, than-kunside, madfecassmoside, madasiatic acid, brahmocide, centellose, dan brahmic acid.
Salah satunya berkhasiat antikeloid dan dipercaya sebagai gingko biloba-nya Indonesia karena bisa menghambat kerusakan memori akibat penuaan dan memperbaiki sistem saraf. Autis juga dipercaya bisa disembuhkan dengan pegagan.
Kemuning biasa digunakan sebagai penghalus kulit, mengobati keputihan, dan peluruh lemak. Kemuning mengandung berbagai senyawa, di antaranya cadinene, methyl-anyhranilate, bisabolene, geraniol, carene-3, eugenol, citronellol, paniculatin, coumurrayin, tanin, dan methyl-salicylate.

Meneliti Sinergisme
Masyarakat banyak yang tidak tahu beda antara penggunaan tanaman obat racikan sendiri (simplicin) dan ekstraksi. Dulu, nenek moyang hanya meracik selembar daun pegagan atau kemuning, tetapi bisa menyembuhkan. Mengapa bisa berkhasiat padahal jumlahnya sedikit ?
Ternyata, khasiat tumbuhan tak ditentukan satu senyawa saja. “Ada sinergisme dan antagonisme, tak hanya satu dan tidak harus dalam jumlah banyak. Itulah konsep dalam keseimbangan dalam tanaman obat,” ungkap Susiani.
Masing-masing zat bersinergi positif, walaupun sedikit tetapi kuat. Ini yang seharusnya menjadi perhatian peneliti agar jangan hanya terpaku pada peran satu senyawa. Berbeda dengan hasil ekstrak, yang terbawa hanya sebagian senyawa sehingga bisa kehilangan sinergisme.
“Pembuatan ekstrak harus dilakukan secara cermat, dan masyarakat harus diberi tahu sampai berapa dosisnya untuk digunakan sebagai obat. Kalau senyawa yang digunakan berlebih, bisa merugikan,” papar Susiani.
Ia menambahkan, zat pengektraksinya jenis apa, juga harus disampaikan kepada masyarakat. Begitu pula tentang cara penggunaannya, apakah harus dengan resep dokter atau tidak. Ini mengingat setiap senyawa punya peran dan tak perlu banyak jumlahnya.
Kepercayaan masyarakat terhadap obat tradisional kini turun, dan lebih mempercayai obat kimia. Padahal, keanekaragaman hayati Indonesia kaya, dan bisa jadi tindakan preventif untuk mencegah sakit.
Menurut Susiani, di tingkat pengambil kebijakan, tak ada upaya serius mengangkat pamor tanaman obat. Fenomena ini bisa dipahami karena industri farmasi modern telah menjadi kekuatan luar biasa. Negara sedang berkembang dibuat tak berdaya terhadap ketergantungan obat kimia.
Kepercayaan justru tumbuh di negara maju. Mereka yang tak memiliki sumber hayati melimpah justru agresif meneliti, seperti Jerman, Jepang, dan Iatalia. Dengan berbagai cara, mereka mendapatkan sumber hayati dari negara tropis.
Pengetahuan tradisional dan sumber hayati banyak dibajak negara lain. Meniran, misalnya, salah satu senyawanya sudah dipatenkan Jepang.
Buah Kapulogo sudah lama diteliti Perancis.” Tahun 1987 saya kuliah di sana, dan mereka sudah meneliti kapulogo yang bijinya didatangkan dari Indonesia,” tutur Susiani.

Edukasi Kembali
Generasi sekarang sudah tak memiliki pengetahuan tanaman obat karena miskinnya edukasi soal itu. “Di pasar, saya sering melihat jamu-jamu dijual dalam bentuk yang salah. Sedih saya melihatnya,” kata Susiani.
Masyarakat harus mendapat informasi cara mengeringkan yang benar, jangan sampai bahan aktifnya rusak. “Tumbuhan itu ada yang tahan terhadap panas, ada yang tidak, Pengering bisa menggunakan suhu 38 derajat Celsius, tetapi waktunya sebentrar,” tutur Susiani.
Di dalam bagian tumbuhan ada zat-zat yang tak boleh masuk menjadi obat. Biji buah mahkota dewa, misalnya, tak boleh diikutsertakan kecuali oleh orang yang tahu. Bijinya bersifat toksin dan mematikan jika digunakan berlebihan.
Harus juga dimengerti, ada tumbuhan tertentu yang tidak dianjurkan untuk orang tertentu, misalnya sedang hamil dan tekanan darah rendah. “Hal seperti ini harus disosialisasikan pemerintah kepada masyarakat,” kata Susiani.
Dibandingkan dengan China dan India, dukungan pemerintah untuk memfasilitasi masyarakat agar sehat dengan tanaman yang dimiliki sangat kurang. Dulu, ada penggalakan apotek hidup dan tanaman obat keluarga atau toga.
Jika masyarakat memiliki pengetahuan cukup, pascabanjir misalnya, seharusnya warga korban banjir tak terlalu bergantung pada datangnya bantuan obat. “Mereka cukup memanfaatkan tanaman yang ada, misalnya jika terkena gatal bisa menggerus daun sambiloto dan brotowali,” kata Susiani.
Penyakit TBC pun bisa sembuh dengan sambiloto yang dikenal bagus antibiotiknya. Batuk bisa sembuh dengan daun saga, daun karuk, dan kencur. Flu bisa hilang dengan adas, jahe merah, dan temulawak. Rematik bisa diobati dengan tanaman meniran, sindaguri, dan sambiloto. Asam urat juga bisa diatasi dengan sindaguri, anting-anting, dan meniran. “Resepnya sederhana, dan jika dicoba untuk pengobatan preventif, maka masa produktif warga akan lebih tinggi. Bangkitkan kembali sehat sebelum sakit,” ujar Susiani. Diperlukan sinergisme antara peneliti, pemerintah, dan media masa guna membangkitkan pamor tanaman obat. Satu pihak tak bisa mendominasi peran, dan pihak lain tak boleh absen, itulah sinergisme seperti yang diajarkan tanaman.

Sudarno Pencipta Tongnopos dan Cairan MBS

Sudarno, Tak Lelah Bereksperimen Sampah


Dua tong sampah di teras rumah Sudarno di Surabaya memang lain. Walaupun berisi sampah organik, saat tutupnya dibuka tak tercium aroma menyengat khas sampah. Bahkan, lalat pun enggan hinggap di sekitarnya.

Oleh MARULI FERDINAND
Sudarno menamai tong ciptaannya itu “Tognopos”, singkatan dari Tong Darno Kompos. Sesuai dengan namanya, tong itu diciptakan untuk mengambil air lindi (air sampah) yang dijadikan pupuk cair. Air itu keluar dari keran yang desediakan guna menghasilkan pupuk cair. Untuk itu, sampah organik harus dibiarkan selama sebulan. Tutup tong mesti rapat agar tak banyak udara bebas yang masuk.
Ke dalam Tongnopos, Sudarno menyemprotkan cairan MBS, singkatan “manis bara Sudarno”, juga ciptaannya. Manis, karena bahan dasar cairan berasal dari tebu muda dan Bara, karena tebu itu dibakar. Tebu bakar lalu digiling dan cairannya dijadikan MBS. Cairan itulah yang menghilangkan bau sampah organik dan membuat alergi lalat dan kecoak. MBS juga bisa menghilangkan bau tak sedap lainnya, seperti bangkai dan kotoran hewan. “Sama sekali tak ada zat kimia dalam MBS, begitu juga Tongnopos,” ujarnya.
Sudarno juga mencampurkan gas minyak dalam MBS. Ini untuk menghindari pedagang ayam nakal, yang mungkin menjual bangkai ayam tak berbau dengan menyemprotkan MBS. Bau gas minyak tak hilang meski ayam dimasak hingga matang. Dengan begiru, orang enggan membeli ayam mati yang berbau gas minyak. Kalaupun ada orang yang terlanjur memakannya, gas itu tak berbahaya.
Sebelum menciptakan Tongnopos dan MBS, Sudarno lebih dulu membuat Batem alias Bata daleme macem-macem. Bata berwarna putih itu merupakan campuran pasir, semen, juga sampah, baik yang mudah maupun sulit terurai. Sampah itu diantaranya plastik, stirofom, kardus, hingga kulit padi. Bata temuan dia kini tersebar di Jawa Timur, Bali, dan Jakarta.
Berkat berbagai penemuan itu, pada 5 Juni 2007 dia mendapat penghargaan Kalpataru tingkat Nasional.

Tong pembakaran
Bapak empat anak ini bukan orang yang mendalami sampah secara akadimis. Semua bermula sikitar tahun 1999-2000 ketika dia bertugas di dinas Perumahan dan Penyehatan Lingkungan Kota Surabaya. Sudarno berpikir, apa pun tugas ang diemban dinas itu, pasti tak jauh dari persoalan sampah.
Suatu hari dia berjalan-jalan ke tempat pembuangan akhir (TPA) yang berlokasi di Keputih. Di tempat itu dia melihat mesin pembakaran sampah yang berjalan “setengah-setengah”. Mesin itu berjalan hanya jika ada kunjungan para pejabat pemerintah kota. Selebihnya, hanya pemulung yang duduk-duduk di sekitar. Belum lagi bau sampah yang menyengar, bahkan jauh sebelum masuk areal TPA.
“Seharusnya saya sebagai orang teknik bisa menciptakan alat pembakaran sampah yang setiap saat berfungsi dan bisa mendaur ulang semua jenis sampah,” tutr lulusan D-3 institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Jurusan Konstruksi ini.
Maka, Sudarno mulai bereksperimen di rumahnya. Sebuah dandang nasi milik istrinya dimodifikasi sedemikian rupa hingga menjadi tempat pembakaran sampah. Dandang itu ditutup rapat-rapat. Alat tersebut memang bisa membakar semua jenis sampah, organik dan non organik. Sayang, umurnya hanya tiga bulan, dandang itu lalu meledak.
Akan tetapi, dia tak patah semangat. Ia terus mencoba membuat tempat pembakaran yang lebih besar. Kali ini Sudarno menggunakan sebuah tong yang biasa dipakai menyimpan oli atau minyak tanah. “Saya menduga, dandang meledak karena suhu di dalam terlalu tinggi. Lagi pula tak ada tempat keluar asapnya,’ katanya.
Belajar dari pengalaman, ia memanfaatkan sebuah pipa agar asap pembakaran bisa keluaar. Ciptaannya sukses. Namun, para tetangganya keberatan sebab asap yang keluar sangat mengganggu. Dia pun berhenti bereksperimen dengan tong dan mulai membuat Batem.

Tayangan televisi
Tahun 2004 Sudarno melihat tayangan televisi yang menyorot masalah sampah di Surabaya. Saat itu dia berkantor di Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya. Dia melihat seorang anak sedang belajar di atas tumpukan sampah dengan masker menutup hidung dan mulut. Cukup lama juru kamera mengambil adegan itu. Ditampilkan pula gambar beceknya jalanan di sekitar lokasi karena rembesan air sampah.
“Saya tertegun melihat gambar itu, bagaimana anak-anak bisa pintar kalau belajar di tempat yang bau? Pasti akhirnya mereka memilih tidak belajar,” katanya.
Dia kembali bereksperimen dengan tebu untuk menghilangkan bau sampah. Setahun kemudian MBS berhasil diciptakan. Untuk menguji coba cairan penghilang segala bau itu, ia bergerilya keliling kampung, menyemprotkannya pada tong sampah millik para tetangga. Ini dia lakukan hampir tiap pagi.
Said Munaji, tetangganya, berujar, “Rupanya dulu Bapak nyemprot sampah saya dengan cairan itu, pantas tiba-tiba tong sampah saya tidak bau, tidak ada lalatnya.”
Said bercerita, tak banyak tetangga yang tahu kalau Sudarno punya cairan ajaib penghilang bau. Namun, para tetangga tak keberatan ketika Sudarno mengubek-ubek sampah mereka dan menyemprot di sana-sini. Warga umumnya tak peduli dengan sampah.

Sekarang MBS sedang dalam proses paten. Begitu manjurnya MBS, beberapa perusahaan sampai memesan cairan itu dalam jumlah besar.
Pada saat yang sama Sudarno juga bereksperimen membuat Tongnopos. Dia kerap meminta hingga berkarung-karung sampah organik milik para tetangga untuk dijadikan pupuk cair yang diolah dalam tongnopos. Logika yang dipakai Sudarno sederhana, “Air sampah organik itu bukan racun karena kebanyakan sayur-sayuran yang biasa kita makan.”
Air yang keluar dari Tongnopos bisa disiram pada tanaman. Fung-sinya menyuburkan tanaman. Sekarang MBS sedang dalam proses paten. Begitu manjurnya MBS, beberapa perusahaan sampai memesan cairan itu dalam jumlah besar.
Sembari terus bereksperimen mengolah sampah, Sudarno juga mewariskan pengetahuan itu kepada masyarakat. Dia kerap di undang ke berbagai tempat untuk mengajarkan cara pembuatan Batem. Baginya, apa yang di lakukan itu hanya “secuil kuku” untuk sebuah upaya raksasa memberantas sampah di negeri ini. Semoga saja pemerintah mau serius mengurus sampah menjadi benda yang bermafaat.

Teknologi Pemupukan

Ketika Lahan Mulai Tandus
Teknologi Pemupukan

Lampu kuning ketahanan pangan di negeri ini mulai menyala. Tanda itu terlihat pada tanah pertanian yang mengering hingga tandus dan mulai banyak ditinggalkan petani.

Oleh Yuni Ikawati
Itu belum termasuk ancaman lain, seperti gagal panen karena hama dan anomali cuaca serta aspek non-teknis yang melemahkan daya saing petani.
Terpuruknya sektor pertanian sebagai lumbung pangan ratusan penduduk berarti pula mengancam ekonomi dan kedaulatan negeri yang berslogan “Gemah ripah loh jinawi” ini. Lalu, adakah cara membenahinya ?
Bicara pangan pokok, perhatian kita umumnya masih mengarah kepada padi atau beras. Itulah yang membuat Indonesia menggenjot produksi padi hingga dapat berswasembada beras pada tahun 1984.
Langkah Indonesia dan negara Asia lainnya dalam mengembangkan teknologi persawahan modern populer dengan sebutan Revolusi Hijau. Revolusi ini pada abad lalu berhasil menyelamatkan bangsa di Asia, termasuk Indonesia, dari bencana kurang pangan dalam hal ini beras.
Ada tiga faktor kunci dalam melaksanakan revolusi itu, yaitu varietas padi unggul, irigasi, dan pupuk. Teknologi pembuatan pupuk difokuskan pada nitrogen (N) sebagai unsur hara penting bagi kehidupan tanaman, yamg mulai diproduksi tahun 1913.
Ironisnya, Indonesia kini kembali di ambang krisis beras dan mulai bergantung pada beras impor yang kini ketersediaannya di pasar dunia terus berkurang. Kondisi ini jelas mengancam Indonesia yang jumlah penduduknya terus membengkak dan belum mampu mengurangi ketergantungan dari produk pertanian tersebut.
Lalu, para pakar teknologi pertanian kembali menilik teknologi yang diterapkan selama Revolusi Hijau. Adakah yang salah? Menurut para pakar petanian, termasuk Widjang Herry Sisworo, pakar ilmu tanah dari Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), teknologi yang di alihkan negara maju ke negara berkambang itu kurang sesuai karena bersifat boros energi dan menguras sumber daya alam.
“Introduksi varietas baru padi hanya berhasil jika didukung penggunaan pupuk yang tinggi,” ujarnya. Kondisi ini memberatkan petani karena harga pupuk amonia yang dihasilkan dari industri petrokimia melonjak, sejalan dengan kenaikan harga minyak bumi. Sementara itu, produksi padi mengalami pelandaian sejak awal tahun 1990-an, yang naik hanya 0,2 persen hingga tahun 2004.
Tanah sawah beririgasi selama tiga dekade lebih terus dipacu untuk berproduksi tinggi melalui pemberian pupuk buatan, terutama N, dengan takaran yang terus meningkat. Laporan riset KG Cassman dan PL Pingali pada tahun 1995 bahkan mengungkapkan penggunaan pupuk N di sawah irigasi teknis telah melampaui batas.
Karena itu. Menurut mereka, harus dilakukan efisiensi penggunaan pupuk buatan sebab bahan baku produksinya terbatas dan mahal. Produksi pupuk buatan mengharuskan pembakaran 500 juta ton batu bara per tahaun. Artinya, akan teremisi gas karbon dan nitrogen oksida serta polusi nitrat dalam air tanah.


Azolla penambat Nitrogen (N)
Intensifikasi pertanian, karena itu, harus di arahkan untuk penyediaan N alamiah yang murah dan hemat enegi. Proses alamiah yang di maksud adalah fiksasi atau penambahan N ke dalam tanah secara biologis, yang secara global bisa mencapai sekitar 170 juta ton per tahun. Jumlah ini kira – kira tiga kali jumlah pupuk N yang digunakan di lahan pertanian.
Penambatan N dari udara pada tanah secara alamiah dihasilkan oleh tanaman paku air, yaitu Azolla. Hingga kini diketahui ada enam spesies Azolla yang tersebar di dunia, antara lain Azolla pinata dan Azolla caroliniana. Tumbuhan yang berasosiasi simbiotik dengan ganggang hijau biru (Anabaena azollae), misalnya, mampu menimbun 25 kg -30 kg N per hektar dalam 30 hari.
Penelitian yang dilakukan enam negara, yaitu Brazil, China, Indonesia, Filipina, Sri Lanka, dan Thailand, menunjukkan Azolla mampu menyediakan N bagi padi sama baiknya dengan urea. Azolla juga dapat menurunkan kemasaman tanah. Di Sri Lanka, Azolla di persawahan dapat meningkatkan efisiensi pemanfaatan pupuk hingga 56 persen dan meningkatkan hasil padi 35 persen di Thailand.

Fungsi bahan organik
Intensifikasi padi selama ini disertai pemberian bahan organik yang sangat minim. “Keadaan ini mengakibatkan tanah menjadi ‘sakit’ dan ‘lapar’ ,” kata Widjang yang juga menunjuk dominasi nitrogen dalam tanah.
Padahal, bahan organik diperlukan sebagai sumber karbon yang merupakan “pakan” dan energi bagi metabolisme dan perkembangbiakan jasad renik penghuni tanah. “Karen itu, dapat dikatakan pupuk buatan adalah pakan bagi tanaman, sedangkan bahan organik makanan untuk tanah,” ujar Widjang, yang meraih doktor ilmu tanah di Institut Pertanian Bogor (IPB).
Berdasarkan pemahaman itu, Widjang berpendapat, intensifikasi harus dilakukan dengan memanfaatkan berbagai sumber hara secara optimal. Peningkatan unsur N saja tidak akan menghasilkan produktivitas yang tinggi tanpa diikuti penggunaan fosfor (P), kalium (K), belerang (S), dan sing (Zn) dalam kadar yang memadai.
Pengoptimalan sumber hara juga dapat dikembangkan di lahan kering atau terdegradasi kesuburannya. Tanah itu kadar nitrogen dan airnya tak memadai bagi kehidupan tanaman.
Widjang yang dikukuhkan sebagai profesor riset bidang pertanian di Batan, April 2006, mengemukakan, penambatan N biologis juga dapat mengoreksi minimnya kadar bahan organik sehingga dapat memperbaiki kesuburan tanah dan meningkatkan kemampuan tanah “memegang” air. Selain itu, bertambahnya kandungan bahan organik tanah juga meningkatkan aktivitas biologis jasad renik, proses pendauran, dan transformaasi unsur hara dalam tanah.
Sebaliknya, rendahnya kandungan bahan organik membuat struktur tanah buruk sehingga tanah mudah tergenang air, peka terhadap erosi dan kekeringan. Pengembangan lahan kering menjadi lahan pertanian yang produktif juga memerlukan reduksi keasaman tanah yang menyebabkan terjadinya keracunan aluminium dan mangan.

Gerakan pengomposan
Menurut Prasetyo Sunaryo, peneliti dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, unsur hara terus berkurang karena terbawa tanaman yang dipanen hingga membuat tanah tandus.
Ia melihat daur unsur hara terputus. “Sampah organik sebagai hasil sisa pemanfaatan produk pertanian yang berasal dari desa ditumpuk di tempat pembuangan sampah di perkotaan. Harusnya dikembalikan desa, menjadi pupuk kompos. Karena sampah organik adalah sumber hara bagi tanaman.
Pemberian pupuk buatan membuat tanah mengeras. Sebaliknya, dengan pupuk kompos dapat mengembalikan kegemburan tanah. Karena itu, perlu digalang gerakan pengomposan sampah untuk memperbaiki lahan tandus sekaligus mengatasi kelangkaan pupuk di pedesaan dan mengurangi subsidi pupuk buatan yang masih diimpor.
Membuat Peternakan Cacing Sendiri

Di jaman yang serba sulit ini, kita harus lebih jeli melihat peluang yang ada di depan mata. Pekerjaan yang "agak kotor" sedikit (atau dirty job dalam bahasa inggris) bukan lagi halangan untuk menggarapnya menjadi ladang usaha yang menjanjikan. Sebenarnya jenis pekerjaan yang dimaksud cukup banyak. Namun, dalam kesempatan ini yang berkesempatan untuk dikupas lebih dalam adalah seputar beternak cacing tanah (Lubricus rubellus).

Hasil yang Dapat Diharapkan
Dalam melakukan usaha ternak cacing ini, setidaknya ada tiga hal yang dapat diharapkan sebagai hasil kerjanya, yaitu:
*1. Cacing itu sendiri, yang saat ini cukup banyak sekali pemanfaatannya, seperti untuk obat, kosmetik, serta bibit untuk produksi cacing selanjutnya.
*2. Tanah bekas tempat hidup cacing yang dapat digunakan sebagai media tanam yang sangat subur.
*3. Pupuk cair yang merupakan cairan pembuangan cacing yang sangat bermanfaat untuk kesuburan tanaman.
Pemanfaatan cacing tanah untuk pembuatan pakan ikan alternatif.
Semua hasil produksi tersebut dapat Anda jual maupun gunakan untuk kepentingan sendiri sebagai penunjang kegiatan produksi selanjutnya.
Peralatan dan Perlengkapan yang Dibutuhkan
Langkah pemeliharaan cacing
Untuk menunjang kegiatan produksi cacing tanah, dibutuhkan beberapa perlengkapan dan peralatan yang mudah diperoleh pada lingkungan sekitar kita dan banyak dijual di toko peralatan pada umumnya. Peralatan dan perlengkapan itu antara lain :
1. Kotak untuk memelihara cacing, dapat memakai papan kayu atau bahan dari plastik maupun dari kaca. Jangan lupa untuk melubangi bagian bawah kotak sehingga dapat menampung ‘pupuk cair’ yang keluar.
2. Kompos sebagai media hidup cacing yang akan dibudidayakan.
3. Sampah sisa makanan atau sampah organik lainnya.
4. Ember dengan penutup.
5. Penutup kotak cacing yang dapat dibuat dari kayu dan kawat jaring.
6. Minyak atau oli untuk menghalau serangga yang tidak diinginkan, misalnya: semut, kecoa, dll.
7. Sarung tangan karet.
8. Bibit cacing tanah.
Setelah peralatan dan perlengkapan sudah disiapkan, proses untuk melakukan pembudidayaan dapat dimulai.
Ada lima tahapan utama untuk membudidayakan cacing tanah,
yaitu :
1. Masukkan kompos setinggi 15cm ke dalam kotak pemeliharaan secara merata.
2. Potong kecil-kecil sisa-sisa makanan atau sampah organik untuk kemudian dimasukkan ke dalam kotak pemeliharaan.
3. Tambahkan sedikit air ke dalam media hingga cukup basah dan gembur.
4. Aduk semuanya hingga tercampur merata. Anda dapat menggunakan sarung tangan yang telah disiapkan jika merasa jijik.
5. Perlahan masukkan bibit cacing tanah ke dalam kotak pemeliharaan.

Lokasi yang terlindung dari hujan dan sinar matahari yang berlebihan.

Cara untuk mengetahui apakah cacing merasa nyaman di tempat hidupnya
Anda dapat memperhatikan perilaku cacing-cacing tersebut untuk mengetahui tingkat kenyamanan kotak pemeliharaan. Jika cacing masuk ke dalam media, maka mereka cukup merasa nyaman dengan kotak pemeliharaan. Sebaliknya, jika cacing-cacing tersebut mencoba naik ke permukaan, itu tandanya kotak pemeliharaan kurang nyaman untuk mereka. Ketidaknyamanan cacing pada kotak pemeliharaan bisa dikarenakan kurangnya kelembaban, kurangnya ventilasi, atau ada zat pencemar yang tidak disukai cacing, seperti zat kimia tertentu dalam media.

Langkah-langkah untuk Pembudidayaan
Desain kotak pemeliharaan cacing
Cara memberi makan cacing
* Potong kecil-kecil makanannya (ingat­lah bahan-bahan yang dilarang)
* Simpan dalam ember tertutup selama 2-3 hari agar terfermentasi
* Buatlah lubang pada media dan masukkan makanan dari ember tadi
* Tutup lagi dengan media perlahan-lahan (hindari alat yang tajam)

Cara menjaga kelembaban kotak pemeliharaan
Tambahkan kompos dan aduk-aduk, jaga jangan sampai media menjadi padat. Jika terlihat kering tambahkan makan­an yang banyak mengandung air.



Hal-hal Lain yang Perlu Diketahui dalam Budidaya Cacing Tanah
Cacing sangat bagus dalam memanfaatkan sisa makanan untuk diubah menjadi pupuk yang disebut “KASCING” & “Pupuk Cair” yang sangat bermanfaat untuk kebun anda. Tapi ingat: cacing adalah makhluk hidup yang memerlukan perhatian yang cukup dalam peme­liharaannya. Pastikan mereka tidak diberi makanan yang dapat membuat mereka sakit.

Jangan memasukkan benda-benda berikut ini dalam kotak pemeliharaan:
-Ampas kopi atau teh
-Minyak atau yang berminyak
-Bahan yang mengeluarkan bau keras
-Sabun atau bahan kimiaTulang atau daging
-Buah yang masam (jeruk)
-Garam atau gula

Berapa banyakkah cacing makan?
Kurang lebih sama dengan berat cacingnya. 1 kg cacing butuh 1 kg makanan. Beri makan paling tiga hari sekali.

Hewan-hewan yang harus dijauhkan dari lokasi pemeliharaan
-Tikus
-Semut
-Ayam
-Bebek
-Kadal
-Katak
Sekian dulu pembahasan mengenai budidaya cacing tanah. Semoga dapat diterapkan dan memberi manfaat bagi kita.

Minggu, 29 November 2009

Pembuatan Pelet Ikan dari Cacing Tanah

Pembuatan Pakan Ikan Alternatif dari Cacing Tanah
(Lubricus Rubellus)

Cacing tanah merupakan hewan yang berpotensi menjadi bahan makanan. sumber protein tinggi. Budidaya cacing tanah relatif mudah, efisien dan murah, dimana untuk membudidayakan cacing ini hanya dibutuhkan suatu media berupa kompos (dalam kehidupan sehari-hari digunakan untuk menguraikan sampah organik).
Kotak untuk pemeliharaan cacing
Sisa dan media ini selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk pupuk tanaman, karena penguraian sampah organik oleh cacing tanah banyak menghasilkan unsur hara yang sangat dibutuhkan bagi pertumbuhan tanaman. Berkaitan dengan potensi cacing tanah sebagai bahan makanan sumber protein tinggi, pemanfaatannya sangat beragam seperti:
a. Untuk bahan campuran kosmetika.
b. Sebagai makanan suplemen kesehatan.
c. Bahan obat-obatan terutama yang menyangkut dengan antibiotik.
d. Sebagai pakan ternak.
Komposisi nutrisi Lumbricus rubelius adalah sebagai berikut:
*Protein Kasar : 60 - 72%
*Lemak : 7 - 10%
*Abu : 8 - 10%
*Energi :900 - 4100 kalori/gram.
Dengan memperhatikan komposisi nutrisinya, maka di dunia perikanan,cacing tanah ini berpotensi untuk dijadikan sebagai bahan ransum makanan ikan

Cacing segar siap untuk dipanen
Seperti diketahui bahwa untuk pertumbuhan ikan, sangat ditentukan oleh kandungan protein dalam makanannya. Mengingat kandungan protein cacing yang cukup tinggi (lebih tinggi dari ikan dan daging) serta komposisi asam amino esensial yang lengkap sehingga, dapat diperkirakan bila cacing tanah ini dapat dimakan oleh ikan akan dapat memacu pertumbuhan dan menghasilkan ikan yang sehat serta tahan terhadap serangan penyakit


ALAT, BAHAN, DAN METODE
Peralatan yang digunakan adalah:
*Alat Penggiling Tepung
*Alat Penggiling Daging
*Baskom

Bahan:
a. Tepung Cacing : 41%
b. Telur ayam : 20%
c. Terigu : 14%
d. Dedak : 18 %
e. Kanji :1%
Untuk membuat tepung cacing, langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :
1. Cacing segar dipisahkan dari medianya.
2. Cacing segar ini di cuci/bilas dengan air bersih, lalu ditimbang.
3. Cacing segar dijemur oleh panas matahari di atas seng dalam 24 jam (suhu udara 32 - 35 derajat celcius).
4. Cacing yang sudah kering kemudian dibuat menjadi tepung dengan menggunakan penggiling tepung.
5. Tepung cacing ditimbang dan siap untuk digunakan.

Untuk menjadikan pelet, bahan-bahan yang dipersiapkan adalah kuning telur ayam yang telah direbus, tepung kanji, terigu, dedak, tepung cacing, masing-masing ditimbang sesuai dengan analisis bahan.
Langkah-langkah pembuatan pelet ikan sebagai berikut :
*Semua bahan dicampur dan diaduk menjadi satu.
*Tambahkan air hangat secukupnya hingga adonan menjadi cukup kenyal. Penggunaan air harap diperhatikan seminim mungkin penggunaannya.
*Setelah adonan terbentuk selanjutnya dicetak dengan mesin penggiling daging sehingga menghasilkan pelet basah yang panjangnya seperti mie.
*Pelet basah tersebut dipotong per 0,5 cm membentuk butiran- butiran.
*Setelah itu pelet dijemur di panas matahari seharian.
*Kemudian pelet ditimbang dan siap digunakan
Untuk memperoleh pelet dengan kandungan protein 35%, maka susunan ransumnya adalah:

% Berat
*Tepung Cacing 47%
*Telur Ayam 20%
*Terigu 14%
*Dedak 18%
*Kanji 1%
(RAD)Sumber: Dinas Perikanan Propinsi DKI Jakarta, Brosur Informasi Proyek Peningkatan Diversifikasi Usaha Perikanan

Memadukan Bisnis dan Penghijauan

Memadukan Bisnis dan Penghijauan

Awalnya, I Wayan Mertha tidak berpikir muluk-muluk saat menanam berbagai jenis bibit pohon di antara tanaman kakaonya di Desa Balinggi, Kecamatan Sausau, Kabupaten Parigi Moutong, sekitar 120 kilometer arah timur Palu, pada tahun 2000.

Oleh : Reny Sri Ayu Taslim
Tanaman kakao harus dilindungi dengan tanamn lebih besar dan rimbun demi mendapatkan buah-buah yang bagus,’ cerita Wayan Mertha mengenai pemikiran sederhananya waktu itu.
Selain itu, ia juga berharap, tanaman pelindung tersebut suatu saat bisa dipanen dan menghasilkan uang. Di sisi lain, untuk lingkungan sekitarnya, tanaman pelindung juga dapat berfungsi menguatkan tanah dan menyerap air.
Maka, Wayan Mertha pun menanam berbagai jenis tanaman berakar kuat, berdaun rimbun, dan berbatang beasr di antara tanaman kakao. Bibitnya dia pungut di hutan sekitar kebunnya. Pembibitan dia lakukan sendiri hiungga menjadi anakan pohon siap tanam.
“ Saat itu, banyak yang mencemooh dan menertawakan apa yang saya lakukan. Kata mereka, ngapain tanam pohon, enggak ada untungnya, enggak bisa jadi uang. Lagi pula, orang-orang pada menebang pohon, saya malah menanam pohon,” tutur Wayan Mertha.
Dicemooh, dia bergeming. Dengan tekun, ia terus menanam bibit pohon, seperti meranti, palupi, nantu, dan durian. Khusus pohon durian, Wayan tidak menanam untuk mengambil buahnya, tetapi lebih memanfaatkan batang kayunya.
Suami Ni Wayan Aryani ini tak peduli bahwa penanaman pohon itu mengakibatkan tanaman kakao miliknya jadi tak sebanyak di kebun orang lain yang memenuhi kebunnya hanya dengan tanaman kakao. Namun, kebun sekaligus hutan kecil Wayan Mertha itu terus bertambah sedikit demi sedikit karena ia membeli lahan terbengkalai di sekitar kebunnnya. Luas kebunnya pun mencapai 17 hektar.
Ketekuna Wayan kemudian mulai membuka mata warga sekitarnya, terutama pera pemilik kebun. Sebab, pohon kakao di kebun Wayan ternyata tumbuh lebih subur dan berbuah lebih bagus dibandingkan kakao di kebun milik petani lainnya. Selain itu, tanah di kebunnya juga menjadi lebih subur. Sumber airnya pun tak pernah kering pada musim kemarau sekalipun.
“Warga lain lalu mulai ikut menanam pohon diantara tanaman kakaonya, atau menebang tanaman kakao yang sudah tua dan menggantinya dengan tanaman pohon. Bibitnya mereka ambil gratis dari saya. Memang, hampir sepanjang waktu saya terus malakukan pembibitan dan memberikan kepada siapa saja yang mau,” katanya.

Industri Kayu
Mata warga sekitar betul-betul terbuka, bahkan tidak sedikit yang terenyak ketika, Agustus lalu, Wayan Mertha memanen tanaman pohon yang sudah berumur dari lahan sekitar satu hektar. Kayu dari hutan miliknya itu dijual dengan harga “lumayan”. Bahkan, ia bisa membuat industri kayu kecil-kecilan untuk mengolah kayu dari hutannya tersebut.
“Tetapi, saya tidak memanen pohon dengan begitu saja. Jauh sebelum saya panen, saya sudah menanam anakan pohon disejumlah luas areal, atau batang yang saya panen. Jadi, lahannya tidak akan kosong. Lagi pula, pola penanamannya saya atur juga agar panen tidak serentak, melainkan bergiliran sesuai usia pohon dan besarnya anakan yang ditanam,” ceritanya.
Wayan Mertha sejauh ini sudah terbilang berhasil memadukan bisnis dan penghijauan, dengan mengawinkan kebun dan hutan. Dari sisi penghijauan, lahan kosong yang semula terlantar kini sudah penuh tanaman dan menjelma menjadi hutan.
Dari sisi bisnis, kayu yang ditanamnya pun menghasilkan uang. Bahkan seperti virus, apa yang dilakukan Wayan Mertha mulai menjalar kepada para pemilik kebun lainnya. Di sekitar kebunnya saja sudah ada 50-an petani yang mengikuti jejaknya.
Mukramin, Kepala Dinas Kehutanan Pargi Moutong, bahkan mengakui, konsep bisnis dan penghijauan yang dilakukan Wayan Mertha dijadikan percontohan oleh dinas kehutanan untuk disosialisasikan kepada para pemilik kebun yang lain.
“Masyarakat sudah mulai mengikuti apa yang dilakukan Wayan. Dampaknya, selain menjaga kesuburan tanah dan terpeliharanya sumber air, warga juga sedikit demi sedikit mulai sadar agar tidak menebang hutan sembarangan. Mereka sadar pada pentingnya fungsi tanaman pelindung, sekaligus melihat tanaman pelindung sebagao investasi jangka panjang,” tutur Mukramin.

Manja dan seenak hati
Wayan Mertha adalah lelaki sederhana yang hanya tamat sekolah dasar. Sebagai anak tunggal diakuinya membuat dia menjadi manja dan berlaku seenak hati, termasuk tidak melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi.
Masa muda lebih banyak dia habiskan dengan bepergian dari satu tempat ke tempat lain. Keinginannya merantau keluar dari Bali, kendati pada awalnya ditentang orangtuanya, membawa Wayan ke Parigi Moutong pada tahun 1976. Saat ini ia sekadar mengikuti beberapa temannya yang sudah terlebih dahulu pergi ke Parigi.
Tanpa bekal keterampilan dan pendidikan mamadai, Wayan Mertha bertahan hidup dengan menjadi kenek. Hidup jauh dari orangtua dan sanak keluarga membuat dia sadar harus menata sendiri kehidupannya, dan tidak bergantung kepada orang lain. Terlebih saat ini ia memutuskan menikahi NI Wayan Aryani pada 1982.
Pendapatan jadi kenek dan buruh kasar sebagian dia tabung, dan digunakan untuk membeli sebidang sawah. Penghasilan dari sawah itu dia kumpulkan pula guna membuka usaha warung kecil-kecilan.
Seiring berjalannnya waktu, Wayan Mertha lalu membeli lahan kebun untuk bertanam kakao, Lahan yang semula Cuma sepetak terus bertambah. Dia kemudian mulai menanam pohon pada tahun 2000.
Pengetahuannya mengenai penanaman pohon, antara lain, diperoleh saat masih tinggal di Bali. Wayan bercerita, tempat tinggalnya di Bali berada di tepi hutan sehingga dia mengenal jenis-jenis pohon, termasuk bagaimana pemeliharaannya.
Belakangan, Wayan Mertha juga melakukan berbagai eksperimen menanam pohon dengan menggunakan batang pohon, bukan bibit.
Kalau semula menanam pohon sekadar melindungi tanaman kakaonya, kini Wayan Mertha terobsesi menghijaukan lahan gersang. Setidaknya hal ini sudah dia mulai dengan membeli 17 hektar lahan kosong di Kayumalue, Palu. Lahan ini akan dia tanami berbagai jenis pohon. Penanaman dilakukan pada November ini, bersamaan dengan datangnya musin hujan. “Menanam pohon itu mudah, yang penting bibitnya bagus, anakan yang ditanam sudah cukup umur, dan waktu penanamannya tepat. Kalau akarnya sudah cukup kuat, dibiarkan saja juga tidak jadi soal karena pohon akan tumbuh alami. Setelah itu kita tinggal menikmati hasilnya, baik dampaknya pada lingkungan, maupun sebgai tambahan penghasilan,” tutur Wayan Mertha bersemangat.

Ekstrak Tanaman Untuk Atasi Hama

Arinafril, Ekstrak Tanaman untuk Atasi Hama


Dalam pandangan Arinafil (42), yang selama bertahun-tahun meng-geluti penelitian tentang hama tanaman dan lingkungan di Indonesia, sejumlah hama tanaman sesungguhnya dapat diberantas dengan me-manfaatkan tanaman yang terdapat di Tanah Air.

Oleh : BM Lukita Grahadyarini

Menurut Arinafil, Indonesia punya kekayaan keragaman hayati yang luar biasa. Jika digunakan secara optimal, hal itu akan memberikan lebih banyak manfaat bagi manusia dan lingkungan.
Ia menelusuri, dari 37.000 spesies flora Indonesia yang telah diidentifikasi, baru sekitar satu persen yang dimanfaatkan untuk biopesti-sida. Berlandaskan hal itu, pria yang menjadi pengajar di Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya (Unsri), Sumatera Selatan, ini giat menggali kegunaan tana-man bagi pemberantasan hama.
Sejak 1997 Arinafil membuat ekstrak tanaman untuk biopestisida. Biopestisida yang dia ciptakan memiliki kegunaan mematikan, menghalau, serta menghambat perkembanagan ulat dan serangga yang menjadi hama pada tanaman dan tempat penyimpanan makanan. Selain itu, juga meng-hambat penetasan telur pada keong mas yang kerap menjadi hama padi.
Sebagian tanaman yang diolah menjadi biopestisida merupakan tanaman yang banyak ditemukan dan dipelihara masyarakat. Dalam proyek-proyek penelitian, ia kerap melibatkan para mahasiswa.
Tahun 1997 itu pula ia membuktikan khasiat ekstrak jahe dan temu putih untuk menghambat serangan ulat kubis (Plutella xylostella Linn). Daun kubis yang diberi ekstrak itu akan menjadi toksin atau racun yang mematikan ulat.
Ia juga membuat ekstrak tanaman dari temu putih, biji nimba, daun kenanga, biji selasih, serta daun avokat yang masing-masing berfungsi mencegah serangan kutu pada tempat penyimpanan beras dan kacang-kacangan. Beberpa jenis kacang-kacangan, seperti kacang hijau, kedelai, kacang merah, dan kacang tanah, yang dilumuri ekstrak tersebut akan awet disimpan sampai enam bulan.
Khasiat serupa ditemukan pada tanaman bawang putih, bunga kemuning, kulit jeruk, lengkuas, kunyit, temu hitam, cabai merah, tembakau, dan kulit duku. Cairan ekstrak bunga kemuning bahkan efektif mematikan kumbang kacang hanya dengan kadar 1,12 persen.
Beberap ekstrak yang dihasilkan juga memiliki kegunaan lebih. Ekstrak bunga kenanga, lengkuas, jahe, kunyit, umbi bawang putih, dan daun nimba tidak menghambat perkecambahan benih kacang hijau sehing-ga aman untuk ditanam meskipun disimpan dalam waktu lama.
Pembuatan ekstrak tanaman dilakukan secara sederhana, meliputi metode tepung, rendam, pasta, dan campuran air. Pada ekstraksi jahe yang menggunakan metode tepung, rimpang jahe dibersihkan, dikupas, dan di-haluskan menjadi tepung. Kemudian, serbuk jahe dicampur dengan beras atau kacang-kacangan guna mempertahankan masa penyimpanan makanan tersebut.
Jahe juga bisa diolah melalui metode pasta. Jahe yang sudah dihaluskan dicampur air agar membentuk adonan, lalu dimasukkan ke kantong dan diperas. Ke dalam cairan perasan dicelupkan beras dan kacang-kacangan.
Pada tahun 1998 ia membuktikan, campuran ekstrak serai wangi, biji nimba, dan lengkuas yang disemprotkan pada belalang kembara (Locusta migratoria) muda akan mematikan hama itu hanya dalam waktu sekitar 30 menit. Cairan ekstrak dari tiga tanaman tersebut meracuni jaringan sel serangga yang ganas menyerang hamparan padi dan perkebunan di Nusa Tenggara Timur pada kurun 1998 – 2007.
Tahun 1999 ia kembali membuat cairan ekstrak biji nimba yang memiliki daya untuk mematikan 70 persen telur keong mas yang banyak terdapat di daun padi dan tunggul-tunggul sawah. Ekstrak yang disemprot ke kumpulan telur keong mas merusak sel-sel telur dan memutus per-kembangbiakkan hewan yang kerap merusak tanaman padi itu.
Pada tahun 2001 ia diminta membantu pencegahan hama kutu daun pada tanaman kacang pea, sejenis kacang kapri yang tumbuh di Jerman. Untuk keperluan itu, ia memanfaatkan cairan ekstrak lengkuas.
“Ekstrak lengkuas bersiaft sistemik, diserap akar tanaman, dan dibawa ke jaringan daun. Ekstrak racun yang terkandung dalam daun akan mencegah serangan kutu daun,” papar Arinafril.
Di atas semua penelitian itu, pria yang menjabat Ketua Laboratorium Toksikologi Pestisida Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Unsri ini memiliki Obsesi menularkan teknologi sederhana pembuatan ekstrak tanaman kepada para petani di Indonesia.

Murah dan aman
Ia berharap teknologi ekstraksi tanaman dapat ditiru petani. Ini untuk mengurangi ketergantungan petani pada pestisida sintetis yang harganya lebih mahal dan berpotensi meninggalkan sisa racun (residu) pada tanaman pangan sehingga membahayakan tanaman dan kesehatan konsumen. Namun, itu pun masih menjadi kendala karena kurangnya sarana penyebaran informasi kepada petani.
Biopestisida yang terbuat dari bahan-bahan alam tidak meracuni tanaman dan mencemari lingkungan. Pemakaian ekstrak bahan alami secara terus-menerus juga diyakini tak menimbulkan resisten pada hama, seperti yang biasa terjadi pada pestisida sintetis.
“Jangan dulu membeli obat-obatan atau pestisida selagi masih bisa membuat biopestisida dengan memanfaatkan bahan baku dari alam,” kata Arinafril.
Pria ini berpandangan, masih banyak tanaman Indonesia yang berpeluang besar untuk dimanfaatkan sebagai obat pemberantas hama. “Tanaman yang semasa tumbuhnya tidak diserang hama berpotensi me-miliki kandungan senyawa yang memberi efek racun pada hama. Jika potensi itu digali, banyak tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk mengusir hama pada tanaman lain,” kata ayah tiga anak ini.
Beberapa penelitiannya di luar negeri terkait dengan pemberantasan hama telah teruji. Tahun 1993-1994 ia menggunakan ekstrak biji tanaman nimba untuk mengendalikan belalang gurun (Schiftocerca gregaria) yang banyak hidup di Afrika. Beberapa negara yang pernah di singgahinya untuk penelitian antara lain Jerman dan Australia.
September 2007 ini, Arinafril diminta melakukan penelitian di Clemson University, Amerika Serikat, untuk mengatasi hama ulat tentara pada tanaman kacang kedelai. Berkaitan dengan penelitian itu, ia berencana menggunakan ekstrak tanaman jahe-jahean.
Bagi Arinafril, penelitian selayaknya dilakukan secara kontinu agar hasilnya bisa dikembangkan optimal. Sayangnya, penelitian di Indonesia kerap terbentur dana akibat minimnya perhatian dan dukungan pemerintah. “Keterbatasan dana menyebabkan peneliti terpaksa mengakhiri suatu penelitian setelah proyek penelitian itu usai sehingga kontinuitasnya kurang. Hasil penelitian pun tak bisa dikembangkan maksimal,” ungkapnya

Semua Karena Jasa Cacing

*Semua Karena Jasa cacing

Ignatius Sumarwoko tak berharap banyak ketika menanam padi. Ia menyadari kondisi tanahnya, di Desa Donokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Yogyajarta, amat tandus, miskin hara, dan kering. Oleh karena itu menanam padi di desanya hanya usaha sampingan. Namun, ia mampu memanen 2,6 ton gabah kering dari lahan 8.000 m2.
Angka itu memang jauh di bawah produktivitas rata-rata padi organik di lahan subur yang berkisar 7 – 8 ton /ha. Namun, bagi Igantius Sumarwoko biasa dipanggil Woko hasil itu menggembirakan. Pasalnya, tanah yang ditanaminya itu miskin hara akibat ditanami tebu dan penggunaan pupuk kimia terus-menerus selama 20 tahun. Saat petani lainnya puso pada Juni 2006, ia malah memetik 8 kuintal gabah kering dari lahan 6.000 m2.
Dengan harga jual beras organik Rp. 7.500,- per kg, pria kelahiran 18 Oktober 1959 itu menangguk pendapatan Rp. 15 juta. “Rendemennya cukup tinggi, dari 2,6 ton gabah menjadi 2 ton beras,” tutur Sumarwoko. Bulir padi berukuran padat, bernas dan lebih besar. Padahal, biasanya dari volume yang sama ia hanya memperoleh 650 kg beras. Produksi dan rendemen padi itu meningkat setelah Sumarwoko menggunakan Kascing alias Kotoran cacing.
Untuk lahan 8.000 m2, ia menambahkan 1,2 ton Kascing setelah pengolahan tanah dan sebelum penanaman. Dengan harga kascing Rp. 15.000 per 20 kg, ia memang menggelontorkan dana Rp. 900.000. bandingkan ketika ia belum menggunakan kascing, Woko menghabiskan 6 kuintal pupuk kimia senilai Rp. 600.000. Setelah memanfaatkan vermikompos alias kascing biaya produksi memang lebih besar, tetapi laba bersih yang ditangguk kian besar.
Ia memanfaatkan kascing pertama kali pada November 2005 untuk mengembalikan kesuburan tanah yang miskin hara. “Saya tak mengharapkan hasil tinggi. Yang penting tanah subur dulu,” kata Woko. Ia kaget produksi padi meningkat 1,5 kali lipat. Sejak itulah ia rutin memanfaatkan kascing untuk budidaya padi organik. Produksi komoditas lain seperti ubijalar dan jagung yang dibudidayakan dengan kascingpun hasilnya melonjak.

Meningkat
Lain lagi pengalaman Ata, pekebun di Cilubang Tonggoh, Kabupaten Bogor, jawa Barat. Penanaman ubijalar dan jagung yang menggunakan kascing hasilnya melambung tinggi. “Ukuran umbi-umbijalar lebih besar, hingga 2 kali lipat,” tutur Ata. Padahal semula Ata ragu saat ditawari kascing. Saat itu ia menganggap harga beli kascing Rp. 17.500 per 20 kg terlalu mahal. Lagi pula ia tak yakin produksi tanaman maksimal. Setelah produsen kascing siap menanggung kerugian, ia membagi dua lahannya masing-masing seluas 600 m2.
Pupuk untuk masing-masing lahan itu berbeda. Di lahan A sebut saja begitu, ia menebar 200 kg kascing; lahan B, pupuk kimia. Tanah langsung ditanami bibit ubi jalar Ipomoea batatas dan disirami hingga basah.
Pada bulan pertama, pertumbuhan tanaman di lahan B lebih pesat ketimbang ubijalar yang dipupuk kascing. Namun pada bulan ke-2, tanaman yang dipupuk kascing tumbuh pesat. Yang meng-gembirakan bobot ubijalar di lahan A mencapai 1,6 kg per tanaman atau total 1,2 ton; lahan B, tak lebih dari 1 kg per tanaman atau 7 kuintal.
Penggunaan kascing pada budidaya jagung juga meningkatkan produksi hingga 40%. “Selain ukuran tongkol lebih besar, rasanya lebih manis,” kata pria 59 tahun itu. Bagaimana duduk perkara produksi melonjak setelah tanaman diberi Kascing ? Menurut ahli budidaya tanaman Ir Yos Sutiyoso, tingkat kepadatan bahan organik termasuk vermikompos sangat rendah. Sebagai gambaran, 1 m3 kascing setara 100 kg. Bandingkan dengan tanah yang mencapai 800 – 1.300 kg. Karena kepadatan rendah, tanah menjadi remah, dan kaya oksigen. Sumarwoko dan Ata sepakat tanah mereka menjadi lebih gembur setelah dipupuk kascing. Rongga-rongga pupuk kotoran cacing itu juga mampu menahan air 40 – 60%. Yos Sutiyoso mengilustrasikan: orang yang berlari di tanah lapang lebih mudah dan lebih cepat. Sebaliknya, jika berlari di area yang padat dan penuh rintangan lebih sulit dan lebih lambat. Orang yang berlari itu adalah akar, sementara area padat dan rintangan adalah tanah nonporous, sangat padat. Sebaliknya tanah remah yang diberi kascing ibarat area lapang.

Kaya Nutrisi
Dampaknya akar tanaman lebih leluasa mencari unsur hara. Di ujung akar terdapat rambut akar yang panjangnya 2 cm. Jika tanah padat dan di sekelilingnya miskin hara, rambut hanya mampu bertahan 2 hari. Sebaliknya, jika tanah remah dan kaya nutrisi, rambut akar bertahan hingga 2 pekan. Karena pasokan nutrisi memadai, per-tumbuhan pun cepat. Hasil akhir dari kondisi itu adalah pening-katan produksi.
Selain itu, kascing pun mengandung humus yang kaya asam humik, asam fultik, dan humin yang mampu menjaga kelembapan dan kegemburan tanah. Berdasarkan riset Norman Q seperti dinukil oleh European Journal of Soil Biology, mengungkapkan produksi lada yang diberi ekstrak asam humik dari vermikompos lebih banyak dibanding yang berasal dari asam humik komersial.
“Makin tinggi kadar asam humik, makin subur tanah itu,” ujar Dr Ir Mashur Ms, ahli tanah dan peneliti vermikompos di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Azotobacter sp, bakteri penambat nitrogen non-simbiosis yang mengandung vitamin dan asam pantotenat, membantu memperkaya nitrogen dalam vermikompos. Dengan segala kelebihan itu, vermikompos salah satu pilihan untuk menjaga tanah gembur, meningkatkan produksi tanaman, dan mendongkrak laba. Semua itu Karena Jasa Cacing.

Budidaya Belut Menapak Masa Depan

*Budidaya Belut Menapak Masa Depan

Koperasi Usaha Cipta Mandiri Yogyakarta mengadakan pelatihan budidaya belut (monopterus Albus) di Wisma Taman Eden, Kaliurang pada 12-13 Februari 2005. Pelatihan ini menghadirkan Pakar Belut Nasional Ir. RM. Sonson Sundoro.

Koperasi Usaha Cipta Mandiri yang dipimpin oleh Gunadi memang masih relatif muda, namun wawasan yang dikembangkan sangat luas dan menjangkau masa depan. Komitmen koperasi ini kepada rakyat kecil, petani dan peternak belut sangat tinggi, sehingga mereka mencari informasi selengkap mungkin untuk kemajuan dan kesejahteraan penangkap belut alam dan pembudidaya belut.

Pengamatan yang dilakukan koperasi usaha ini memang mencengangkan, karena dapat mengungkap kondisi pasar lokal DIY dan sekitarnya. Disamping itu kondisi belut alam sebagai sumber mata pencaharian beberapa keluarga dipedesaan telah mengalami banyak penurunan bahkan menghilang samasekali dimusim kemarau, sehingga memerlukan langkah-langkah konkrit agar penghasilan dan kesejahteraan mereka tidak menurun.

Pasar Godean, sebagai contoh memerlukan suplai belut segar seberat tujuh kuintal. Hasil pengamatan yang lain adalah home industri belut di DIY dan Jateng memerlukan sekitar 1-2 kuintal per industri. Kondisi ini sangat memberikan harapan bagi pembudidaya belut, karena pasar masih sangat terbuka. Kebutuhan-kebutuhan belut segar bagi pasar tradisional dan home industri ini saat ini disuplai dari Jawa Timur dengan kapasitas 50 kilogram per home industri.

Pelatihan budidaya belut ini dimaksudkan untuk membuka wawasan semua pihak yang menggantungkan hidupnya dari bisnis belut. Disamping itu, dengan pelatihan, diharapkan dapat memperdalam pengetahuan dan ketrampilan budidaya belut, sehingga mencapai taraf profesional, karena usaha belut ini dapat dijadikan profesi yang memiliki masa depan cerah.

Ir. RM. Sonson Sundoro sebagai nara sumber dan pakar belut nasional mengawali pelatihan teknis budidaya belut ini dengan memberikan gambaran kepada peserta tentang usaha belut. Kesempatan ini diawali dengan penulisan buku tentang budidaya belut yang mendasarkan pada uji coba selama kurang lebih dua puluh tahun yang dilakukannya dibantu orang tua seorang pakar perikanan.

Sonson mengungkap prospek budidaya belut cukup luas peluangnya, karena masyarakat dunia mulai mengenal manfaat mengkonsumsi belut. Peluang eksporpun terbuka sangat luas, pada tahun 1998 Jepang membutuhkan belut segar seberat lima ton, namun jumlah ini tidak pernah dapat dipenuhi, karena tumpuan ekspor ini masih dari hasil tangkapan belut alam yang dimusim kemarau sangat sulit didapat.

Disamping itu kualitas, terutama segi ukuran, tidak dapat dipertahankan, karena belut alam ini setiap hari ditangkap, sehingga tangkapannya semakin kecil dan bahkan dalam dua tahun stok sudah habis.

Pengalaman pahit ini memaksa untuk dilakukan perubahan basis ekspor yang semula belut alam menjadi belut budidaya, sehingga dari segi jumlah dan kualitas dapat dijaga. Pasar Asia Selatan dan Asia Tenggara mulai 2001 mulai nampak menunjukan kenaikan yang berarti. Hal ini terlihat dari permintaan mereka ke Indonesia untuk Hongkong sepuluh ton per hari per pengusaha importir padahal kemampuan baru mencapai tiga ton per hari. Permintaan lain datang dari Malaysia delapan puluh ton per minggu, Korea sepuluh ton per minggu,

Harga yang importir tetapkan juga menunjukan penghasilan yang menggiurkan, karena Hongkong menetapkan 4,5 dolar amerika per kilogram belut segar. Jepang bahkan lebih menjanjikan lagi dengan 9-10 dolar amerika per kilogram belut segar.

Pasar dalam negeri, bahkan lokal DIY dan sekitarnya juga tidak kalah terbukanya. Pasar dalam negeri telah dipatok harga perkilogramnya sebesar Rp. 10.000,00. untuk plasma. Pasar Jakarta membutuhkan 20 ton per hari dan DIY dan sekitarnya sebanyak 150 home industri terpantau membutuhkan kurang lebih 300 kuintal per hari. Permintaan ini juga datang dari Super market sebanyak 5 kuintal per hari.

Lebih lanjut Sonson mengatakan bahwa bagi pemula diharapkan mau belajar budidaya dan sifat belut, sehingga kanibalisme tidak terjadi pada kolam produksi. Disamping itu per-syaratan kolam, sehingga belut dapat berkembang dengan baik dan aman dari hama dan predator alami. Kolam ini dapat diatas atau menggali tanah.

Pembuatan kolam belut diawali dengan perencanaan konstruksi kolam, pemilihan lahan. Hal ini dilanjukan dengan penggalian tanah atau pembuatan bak diatas tanah, baik untuk kolam penampungan induk, kolam pemijahan dan pendederan maupun kolam pembesaran. Kolam-kolam ini memiliki ukuran tersendiri antara lain : Kolam Penampungan Induk berukuran 200 cm X 400 cm kedalaman 80 cm, Kolam Pemijahan dan Pendederan berukuran 200 cm X 200 cm kedalaman 100 cm, Kolam Pembesaran berukuran 500 cm X 500 cm kedalaman 120 cm.
Disamping ukuran dan persyaratan lahan juga dilengkapi dengan media pemeliharaan dengan urutan dan ukuran antara lain sebagai berikut :
1. Jerami setinggi 40 cm.
2. Pupuk Urea 5 kg dan NPK 5 kg
(kolam berukuran 500 cm X 500 cm atau perbandingannya).
3. Lumpur/tanah setinggi 5 cm.
4. Pupuk Kandang setinggi 5 cm.
5. Pupuk kompos setinggi 5 cm.
6. Lumpur/tanah setinggi 5 cm.
7. Cincangan Batang Pisang setinggi 10 cm.
8. Lumpur/tanah setinggi 15 cm.
9. Air setinggi 10 cm.
10. Enceng gondog sebanyak 3/4 permukaan kolam.

Media pemeliharaan ini didiamkan agar terjadi proses permentasi selama kurang lebih dua minggu, sehingga siap untuk ditaburi bibit/benih belut yang akan dibudidayakan.
Pelaksanaan pengembangbiakan dapat dimulai setelah kolam dan media pemeliharaan siap. Langkah berikutnya adalah memilih bibit belut yang baik agar hasilnya dapat masimal. Bibit belut ini harus dipilih yang sempurna atau normal dan singkirkan yang tidak normal. Belut yang berkualitas ini akan menghasilkan keturunan yang baik, sehingga akan berkembang dengan baik pula.

Belut berkualitas memenuhi persyaratan sebagai berikut :
1. Anggota tubuh utuh dan mulus yaitu tidak ada luka gigitan.
2. Gerakan lincah dan agresif.
3. Penampilan sehat yang dicirikan tubuh yang keras dan tidak lemas manakala dipegang.
4. Tubuh berukuran kecil dan berwarna kuning kecoklatan.
5. Umur antara 2-4 bulan.

Ciri-ciri Induk Belut yang baik dapat dikenali melalui penampilan :
1. Induk Belut Jantan.
2. -Berukuran panjang lebih dari 40 cm.
3. -Permukaan Kulit lebih gelap atau abu-abu.
4. -Bentuk Kepala Tumpul.
5. -Umur lebih dari sepuluh bulan.
6. -Induk Belut Betina.
7. -Berukuran panjang antara 20-30 cm.
8. -Permukaan Kulit lebih cerah dan warna putih kekuningan pada perutnya.
9. -Bentuk kepala runcing.
10. -Umur dibawah sembilan bulan.
Belut ini mudah berkembangbiak dialam terbuka dan tidak sulit dibudidayakan dikolam yang menyerupai habitatnya serta memberikan penghasilan yang cukup menjanjikan. Pemasaran belut baik budidaya maupun tangkap akan dijamin oleh Koperasi Usaha Cipta Mandiri Yogyakarta.
Perkembangbiakan belut, setahun sekali, akan dimulai dengan Belut jantan membuat lubang menyerupai huruf "U" dan gelembung udara yang menarik betina. Perkawinan akan terjadi pada lubang dan telur akan bertaburan dibawah gelembung udara yang benyerupai busa. Telur-telur ini selanjutnya akan dicakup Belut Jantan untuk ditetaskan di lubang persembunyian dengan pengawasan Belut jantan selama 9-10 hari dialam terbuka dan 12-14 hari dikolam pemijahan. Belut muda ini akan mencari makan sendiri dan lepas dari belut jantan setelah berumur 15 hari.
Secara alami belut memakan binatang lain yang lemah, karena itu mereka harus membuat lubang perangkap yang menyerupai terowongan yang berkelok agar mangsanya tidak mudah lepas. Belut ini dapat dipanen setelah tiga bulan penaburan untuk pasar lokal, namun pasar ekspor minimal enam bulan. Kolam setelah panen diperbaiki dan diganti media pemeliharaannya agar zat renik yang diperlukan pemeliharaan berikutnya dapat tersedia cukup. (heri/win)

Enceng Gondok untuk Bahan Bakar Biogas

Enceng Gondok untuk Bahan Bakar Biogas

Enceng gondok bisa dijadikan bahan bakar biogas dengan biaya murah sehingga dapat menekan pengeluaran rumah tangga. Penggunaan tumbuhan pengganggu itu dalam skala besar memperbaiki kondisi lingkungan dan berdampak pada kelangsungan pasokan listrik. Potensi enceng gondok di Jawa Barat sangat besar.
Pejabat Harian Manajer Humas Unit Bisnis Pembangunan (UBP) Saguling Muhammad Sayogo di Kabupaten Bandung Barat, Jumat (29/6), mengatakan, po-tensi biogas dari enceng gondok luar biasa besar. Enceng gondok banyak ditemukan di sekitar Waduk Saguling.
Permukaan air saguling sekitar 5.000 hektar dan hampir seluruhnya tertutup gulma tersebut. Daerah yang banyak enceng gondok adalah kecamatan Cihampelas dan Batujajar, Bandung Barat.
Menurut Sayogo, biaya penanganan enceng gondok untuk Waduk Saguling sangat besar, lebih dari 1 milyar per tahun. Penyebaran enceng gon-dok harus diantisipasi karena menyebabkan pendangkalan.
Pendangkalan membuat aliran air untuk pembangkit tenaga listrik terganggu. Oleh karena itu, pemberdayaan encng gondok akan membantu kelang-sungan pasokan listrik. Apalagi, hamparan enceng gondok banyak ditemukan di waduk.
Pelaksana Lingkungan UBP Saguling Endang Hadiyat mengatakan, jika dicacah, biogas yang dihasilkan dari proses fermentasi enceng gondok membutuhkan waktu seminggu. Eeceng gondok yang ditumbuk memerlukan waktu lebih singkat, sekitar 5 hari.
Pihak UBP Saguling sudah membuat alat penghasil biogas dari enceng gondok. Alat cukup diisi enceng gondok dan air. Inovasi tersebut dihasilkan akhir tahun 2006. Enceng godok seberat 200 kilogram menghasilkan biogas cukup untuk seminggu, dengan pemakaian 1,5 jam per hari.
Setiap hari alat berupa drum yang disambungkan dengan selang dan plastik penampung gas itu hanya perlu diisi dengan seember enceng gon-dok. “Sesuatu yang membusuk mengandung biogas itu bermanfaat untuk manusia,” kata Endang.
Enceng gondok menjadi biogas karena sesudah melalui beberapa tahap pembuatan dapat menimbulkan Etana. Enceng gondok adalah sejenis tanaman hidrofit yang mengapung dalam luas 1 meter persegi dengan berat 2 kg. Mengingat luasnya permukaan Waduk Saguling, potensi enceng gondok se-bagai bahan bakar alternatif pengganti minyak tanah sangat besar.
Manfaat lain adalah menekan pengeluaran untuk penanganan enceng gondok. Di sisi lain, masyarakat ekonomi lemah dapat terbantu karena bahan bakar murah, seperti kayu, semakin sulit dicari.
Pakar lingkungan, Universitas Padjadjaran Otto Soemarwoto mengatakan, enceng gondok, selain menimbulkan pendangkalan waduk, juga menyerap logam berat, seperti besi, seng, tembaga, dan raksa.
Encang gondok akan berkembang pesat bila air dipenuhi limbah pertanian dan pabrik. Tanaman itu dapat mnutupi permukaan air sehingga sinar matahari tidak dapat tembus ke dasar sungai. Akibatnya, kehidupan tumbuhan lain dan hewan terganggu.

Manfaat Tanaman Azolla


Azolla microphylla di kolam dipanen dengan serok. Azolla basah dan kering. Azolla basah disukai oleh ikan, itik, maupun ternak besar seperti kambing, sapi, dll. Azolla kering bisa dicampurkan dalam pembuatan pakan ternak untuk menambah nilai gizi, terutama protein.
Kolam Azolla yang ada di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). UMM mengembangkan Azolla di kolam-kolam percobaannya untuk bahan penelitian para dosen dan mahasiswa. Jenis Azolla yang diteliti yaitu Azolla microphylla

Kamaruddin, Sang PPL THL Deptan di Kecamatan Krayan Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur sedang mengamati Azolla microphylla yang sudah cukup berkembang di sawah-sawah sejak tahun 2007 yang lalu. Dengan Azolla kesuburan sawah dapat ditingkatkan, petani tidak perlu lagi mendatangkan pupuk Urea dan lainnya, ikan yang ada di sawah juga akan berkembang biak dan tumbuh pesat, serta itik yang dilepas di sawah men-dapatkan sumber makanannya yang melimpah, yaitu Azolla microphylla. Begitu ujarnya.


Bapak Ir. Syarifuddin MSi, Dosen UMM ini sangat getol meneliti Azolla microphylla. Dengan kebaikan hati beliaulah bibit Azolla microphylla bisa sampai dan berkembang di Nunukan Kalimantan Timur. Terima kasih Bapak!!
Kolam ini dibersihkan dari ikan untuk secara khusus ditanami Azolla microphylla. Menurut hitungan Ir. Dian Kusumanto kolam Azolla seluas 1 hektar jika produksinya optimal dapat memberi pakan pada sekitar 2000 ekor itik setiap hari.
Tulisan di bawah ini adalah buah pikiran Saudara Agus Rochdianto. Beliau sangat memperhatikan Azolla.

oleh : Agus Rochdianto
Meski sudah diperkenalkan dan dipopulerkan sejak awal tahun 1990-an Azolla, ternyata belum banyak petani yang memanfaatkan tanaman Azolla (pinnata) untuk usaha taninya. Padahal manfaat tanaman air ini cukup banyak. Selain bisa untuk pupuk dan media tanaman hias, Azolla juga bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak dan ikan.
Di Bali, Azolla biasa dan sering dijumpai terapung di perairan sawah dan kolam ikan. Karena dianggap gulma, para petani lantas menyingkirkannya. Ditumpuk dan dibuang begitu saja. Padahal, bila dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman padi di sawah, Azolla ini bisa menekan penggunaan pupuk urea sampai 65 Kg/ha.

Pengganti Urea
Pemanfaatan Azolla sebagai pupuk ini memang memung-kinkan. Pasalnya, bila dihitung dari berat keringnya dalam bentuk kompos (Azolla kering) mengandung unsur Nitrogen (N) 3 - 5 persen, Phosphor (P) 0,5 - 0,9 persen dan Kalium (K) 2 - 4,5 persen. Sedangkan hara mikronya berupa Calsium (Ca) 0,4 - 1 persen, Magnesium (Mg) 0,5 - 0,6 persen, Ferum (Fe) 0,06 - 0,26 persen dan Mangaan (Mn) 0,11 - 0,16 persen.
Berdasarkan komposisi kimia tersebut, bila digunakan untuk pupuk mempertahankan kesuburan tanah, setiap hektar areal memerlukan Azolla sejumlah 20 ton dalam bentuk segar, atau 6-7 ton berupa kompos (kadar air 15 persen) atau sekitar 1 ton dalam keadaan kering. Bila Azolla diberikan secara rutin setiap musim tanam, maka suatu saat tanah itu tidak memerlukan pupuk buatan lagi.
Hal itu dimungkinkan, karena pada penebaran pertama 1/4 bagian unsur yang dikandung Azolla langsung dimanfaatkan oleh tanah. Seperempat bagian ini, setara dengan 65 Kg pupuk Urea. Pada musim tanam ke-2 dan ke-3, Azolla mensubstitusi-kan 1/4 - 1/3 dosis pemupukan.
Dibanding pupuk buatan, Azolla memang lebih ramah ling-kungan. Cara kerjanya juga istimewa, karena Azolla mampu mengikat Nitrogen langsung dari udara.

Untuk media tanam
Penggunaan azolla sebagai pupuk, selain dalam bentuk segar, bisa juga dalam bentuk kering dan kompos. Dalam bentuk kompos ini, Azolla juga baik untuk media tanam aneka jenis tanaman hias mulai dari bonsai, suplir, kaktus sampai mawar. Untuk media tanaman hias, selain digunakan secara langsung, kompos Azolla ini juga bisa dengan pasir dan tanah kebun dengan perbandingan 3 : 1 : 1.
Untuk membuat kompos Azolla, caranya cukup mudah. Buat saja lubang ukuran (P x L x D) 3 x 2 x 2 meter. Kemudian Azolla segar dimasukkan ke dalam lubang. Seminggu kemudian Azolla dibongkar. Untuk mengurangi kadar air menjadi 15 per-sen, Azolla yang sudah terfermentasi tersebut lantas dijemur. Setelah agak kering, baru dikemas dalam kantong plastik atau langsung digunakan sebagai media tanam.

Pakan ternak dan ikan
Selain untuk pupuk dan media tanam, Azolla juga bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak, khususnya itik dan beragam jenis ikan omnivora dan herbivora. Sebagai pakan ternak, kan-dungan gizi Azolla cukup menjanjikan. Kandungan protein misalnya, mencapai 31,25 persen, lemak 7,5 persen, karbo-hidrat 6,5 persen, gula terlarut 3,5 persen dan serat kasar 13 persen.
Bila digunakan untuk pakan itik, penggunaan Azolla segar yang masih muda (umur 2 - 3 minggu) dicampur dengan ransum pakan itik. Berdasarkan hasil penelitian, campuran Azolla 15 persen ke dalam ransum ini, terbukti tidak berpengaruh buruk pada itik. Maksudnya, itik tetap menyantap pakan campuran Azolla ini dengan lahapnya. Produksi telur, berat telur dan konversi pakan juga tetap normal. Ini berarti penggunaan Azolla bisa menekan 15 persen biaya pembelian pakan itik. Tentu saja hal ini cukup me-nguntungkan peternak karena bisa mengurangi biaya pembelian pakan itik.
Sama seperti untuk itik, bila akan dimanfaatkan untuk pakan ikan, Azolla bisa diberikan secara langsung dalam keadaan segar. Boleh juga dengan mengolahnya terlebih dulu menjadi tepung. Tepung Azolla ini, selanjutnya digunakan sebagai bahan campuran untuk membuat pakan buatan (pelet) untuk ikan.Berdasarkan kaji terap di lapangan, dalam keadaan segar Azolla bisa diberikan untuk pakan ikan gurami, tawes, nila dan karper. Dengan pemberian pakan berupa Azolla, terbukti ikan tetap bisa tumbuh pesat. Tak kalah dengan ikan lainnya yang diberi pakan buatan berupa pelet. Di saat harga pupuk, pakan ternak dan ikan mahal seperti belakangan ini, tak ada salahnya bila Azolla ini menjadi salah satu alternatif pilihan yang secara finansial cukup menguntungkan. Baik digunakan sendiri secara langsung atau untuk dibisniskan. Mau coba ? (Agus)

Tanaman Azolla Pengganti Pupuk Urea

Tanaman Azolla Pengganti Pupuk Urea


TANAMAN air jenis Azolla, jika dibiarkan tumbuh di lahan sawah dapat menjadi pupuk alami pengganti urea. Karena itu pemanfaatan Azolla secara terus menerus setiap musim tanam padi, dapat mengurangi penggunaan pupuk urea atau pupuk nitrogen buatan pabrik.
Dengan demikian biaya produksi pertanian dapat ditekan, sehingga keuntungan petani meningkat. Tapi sayang, petani yang tidak mengerti manfaat Azolla malah menganggapnya sebagai gulma dan membuangnya. Menurut Peneliti Mikrobiologi Fakultas Pertanian UGM, Dr Ir Ngadiman MSi, kemanfaatan Azolla ini lantaran tanaman tersebut mampu mengikat nitrogen dari udara.
Nitrogen merupakan nutrisi utama bagi tanaman untuk menopang pertumbuhan. “Jumlah nitrogen yang diikat Azolla melebihi kebutuhannya sendiri. Sehingga sebagian nitrogen dilepaskan ke lingkungan sekitarnya dan diserap oleh tanaman lain. Selain menghemat pupuk, tentu bermanfaat pula untuk memperbaiki tekstur tanah yang rusak akibat penggunaan pupuk kimia yang sekian lama,” ujar Ngadiman.
Dijelaskan, Azolla adalah tanaman paku air yang mengapung di lingkungan perairan seperti kolam, danau, saluran, sawah dan sebagainya. Warna daunnya hijau, tapi pada kondisi yang kurang baik (akibat suhu lingkungan terlalu tinggi) warna daun berubah keku-ningan hingga kecoklatan. Dalam satu tangkai terdiri dari 3-4 helai daun berukuran kecil dan akarnya menggantung dalam air.
Ngadiman mengaku pernah melakukan penelitian sekitar tahun 1989-1990 dan menemukan manfaatnya sehingga membuat Azolla booming. Namun setelah itu lambat laun meredup dan Azolla nyaris dilupakan petani sampai sekarang. Berdasarkan penelitiannya, Azolla mampu mengganti kebutuhan urea antara 40-50 persen setelah Azolla digunakan selama 5 musim tanam berturut-turut.
Sayangnya, penelitian yang dilakukan Ngadiman hanya sampai pada 5 kali musim tanam. “Kalau penelitian tersebut diteruskan, saya yakin suatu saat akan ketemu angka dimana pemakaian urea dapat ditiadakan sama sekali karena tergantikan oleh Azolla,” tandasnya. Azolla dapat dikembangbiakkan seperti tanaman pada umumnya.
Untuk mendukung pertumbuhan tanaman padi, benih Azolla sebaiknya ditebar ke lahan dua hari setelah bibit padi ditanam. Sedangkan benih Azolla yang ditebar adalah benih yang sudah berusia 2 minggu. Dengan cara itu, pada saat padi berusia 21 hari, tanaman Azolla sudah tumbuh sesak meme-nuhi seluruh celah di antara batang-batang padi. “Dengan demikian tak ada lagi ruang yang tersisa untuk hidupnya rumput atau gulma. Ini akan menghemat biaya untuk menyiangi gulma. Bagi petani yang tidak ingin repot, biarkan saja Azolla tumbuh seperti itu manfaatnya sudah terasa,” katanya. Tapi akan lebih baik lagi, menurut Ngadiman, jika Azolla tersebut dibenamkan ke dalam tanah. Caranya, kering-kan dulu lahan sehingga Azolla mengendap di permukaan tanah. Setelah itu Azolla dicampur atau dipendam dalam tanah. Ini lebih efektif karena Azolla tersebut akan terurai dan diikat oleh partikel-partikel tanah. Sedangkan jika hanya dibiarkan di permukaan tanah, sebagian nitrogen pada Azolla akan me-nguap. Berdasarkan penelitian itu pula diketahui, Azolla mengandung 22-37 persen protein dari setiap berat kering. Tanaman ini juga tidak beracun bagi ternak, unggas dan ikan. Sehingga Azolla dapat dimanfaatkan untuk pupuk berbagai tanaman, pakan ternak dan ikan. (Aksan Susanto)-g

Mengubah Asap Menjadi Pestisida Organik

Mengubah Asap Menjadi Pestisida Organik

Asap hasil pembakaran batu bata menjadi salah satu sumber polusi udara. Asap ini bisa membuat orang sesak napas. Baunya juga bertahan sampai beberapa hari, baik di baju maupun badan, Namun, di sisi lain, asap tersebut ternyata bisa bermanfaat sebagai pestisida dan pengawet organik.

Muhammad Khairul Ihwan termasuk orang yang risau dengan bahaya asap yang mengancam kesehatan warga di kampungnya, Dusun Dalam Desa, Desa Pringgajurang, Kecamatan Montong Gading, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.
Pasalnya, di dusun itu ada lebih dari 150 unit gudang tempat pembakaran batu bata dengan frekuensi pembakaran tiga kali sebulan. Mereka menggunakan sekam padi sebagai bahan baku pembakaran. Total keperluan sekam untuk sekali proses pembakaran 3,5 ton, dengan menyisakan abu sekitar 2,800 kilogram.
Dari abu ditambah jumlah unit pembakaran itu, potensi asap di dusun tersebut menjadi begitu besar. Jika gudang pembakaran ini difungsikan dalam waktu bersamaan, “Suasana di kampung kami seperti sedang terjadi kebakaran hutan,” kata Iwan, sapaan Khairul Ihwan.
Asap tak terkendali. Maka, di sore hari sekalipun, pandangan penjalan kaki dan pengendara sepeda motor di jalanan menjadi terbatas. Lebih repot lagi di malam hari, kepulan asap masuk ke dalam rumah penduduk, membuat ruangan kian gelap, pekat, dan penghuni pun terbatuk-batuk, sulit bisa tidur nyenyak.
Di lain pihak. Penghasilan para pekerja di industri batu bata itu tak sesuai dengan energi yang terpakai. Dari mencetak hingga proses pembakaran 1.000 buah batu bata, diperlukan waktu tiga hari. Para pekerja biasanya suami-istri hanya mendapat upah Rp. 35.000 per tiga hari kerja itu.
Mereka juga harus mengangkut batu bata mentah ke tempat pembakaran berupa gubuk, beratap ilalang, tanpa dinding yang berjarak 700 meter dari lokasi pencetakan. Di tempat ini, batu bata menjadi matang dalam tempo 6-7 hari.
Biasanya para pekerja dibayar di muka oleh pemilik tanah sekaligus si empunya tempat pembakaran. Jika dalam waktu yang ditentukan target produksi batu bata belum tercapai, para pekerja minta panjar lagi. Sebab, uang mereka sudah habis untuk keperluan makan-minum setiap hari.

Gudang Uji Coba
Kondisi itu membuat Ihwan terpacu untuk membantu warga dusunya keluar dari lingkaran realitas hidup selama ini. Dia tahu, di Yogyakarta ada produk asap cair berbahan baku tempurung kelapa.
“Saya berpikir, di kampung saya produk sekam begitu banyak dan nyaris dibuang percuma. Kenapa sekam itu tidak saya coba untuk dimanfaatkan,” cerita Iwan.
Ia kemudian mendesain dan membangun gudang uji coba pemba-karan batu bata pada tanah milik seorang anggota kelompok Usaha Ekonomi Produktif di desanya. Gudang ini berukuran 2,5m x 1,7m dengan tinggi 2,5m, berkapasitas 2.000 buah batu bata.
Gudang yang salah satu sisinya terbuka atau mirip garasi itu ber-dinding permanen, beratap daun kelapa yang melapis terpal plastik di bawahnya guna menahan asap keluar lewat sela-sela daun kelapa itu.
Untuk membangun gudang uji coba tersebut, Ihwan menyisihkan gajinya sebagai guru Sekolah Menengah Kejuruan Negeri I Selong, ibu kota Lombok Timur. Total biaya pembangunan gudang termasuk pembelian instalasi proses mendapatkan asap cair menghabiskan biaya sekitar Rp. 5,5 juta.
Asap pembakaran batu bata dialirkan melalui pipa kondensi berbentuk spiral sepanjang 12 meter berisi air agar fase asap yang ber-bentuk gas akan mencair. Asap cair yang dihasilkan masih pekat dan mengandung banyak ter. Asap cair itu kemudian dimurnikan memakai alat lain berupa bejana tertutup, dengan cara dimasak selama tiga jam dalam suhu 100 – 150 derajat Celsius. Dari proses ini dihasilkan asap cair yang bening.
Bejana itu berkapasitas 30 liter. Dengan sekam 800 kg untuk pem-bakaran 2.000 batu bata, dihasilkan 60 liter asap cair pekat. Lalu, setelah melalui proses penyulingan dalam bejana tertutup, diperoleh 24 liter asap cair bening yang berguna untuk pestisida organik, seperti untuk mengusir hama tanaman dan mencegah gigitan nyamuk pada ternak.
“Penduduk menggunakan asap cair bening untuk mengobatai bekas gigitan nyamuk pada ternak sapi. Kita juga bisa memakainya, asalkan tahan dengan baunya,” tutur Iwan.
Adapun sisa asap cair yang masih berwarna hitam pekat sebanyak sekitar 5 liter digunakan, antara lain, untuk mengawetkan kayu. Caranya, kayu direndam dalam air asap cair pekat atau dioleskan dengan kuas pada kayu agar kayu tidak dimakan rayap.
Dari telusur pustaka diketahui, asap cair mengandung fenolat, sen-yawa asam dan karbonil yang berguna untuk mengawetkan makanan. “Komponen asap khususnya berfungsi memberi cita rasa dan warna yang diinginkan pada produk asapan karena berfungsi sebagai antibakteri dan antioksidan,” kata Iwan.

Menjadi Rebutan
Asap cair hasil kreasi Ihwan menjadi rebutan warga setempat, terutama para petani dan peternak. Mereka memerlukan sebagai alat untuk melakukan pekerjaan alternatif selain membuat batu bata, yakni untuk mengusir hama yang mengganggu tanaman padi.
Bahkan, setelah merasakan hasil proses asap cair itu, seorang pengusaha di desanya menyediakan lahan untuk membangun gudang lebih besar, yang bisa menampung pembakaran batu bata dalam jumlah lebih besar, sekitar 10.000 buah. Apalagi asap cair itu bisa dijual, selain juga lebih efisien dari segi biaya dan waktu proses pembakaran. Kalau pembakaran secara tradisional memerlukan waktu 6-7 hari, dengan alat temuan Ihwan bisa dipersingkat menjadi 3-4 hari.
Ihwan merasa senang karena apa yang dia lakukan ternyata bermanfaat bagi orang banyak. Selain secara ekonomis lebih menguntungkan, dia juga bahagia karena pengolahan batu bata hasil perconbaannya juga relatif mengurangi resiko gangguan penyakit saluran pernapasan, terutama pada para pekerja dan warga yang melakukan kontak langsung dengan kegiatan pembakaran batu bata itu.
Lebih dari itu, Ihwan juga mampu menjawab keraguan dosen pembimbingnya di Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, tempat ia menyelesaikan program magisternya.
“Asap cair dari sekam padi ini saya pakai untuk bahan penelitian dan disertasi. Awalnya, obyek penelitian dan judul disertasi saya dianggap lucu. Namun, saya yakin apa yang saya lakukan akan mencapai sesuai target,” ucap anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Ahmad dan Rusmiati ini.
Ia juga mengikutsertakan hasil penelitiannya itu dalam Lomba Teknologi Tepat Guna (TTG) yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi NTB. Hasilnya ? Ihwan diberi anugerah TTG kategori Pengembang, berikut hadiah uang Rp. 7 juta, yang diserahkan Gubernur Zainul Majdi seusai apel Hari Ulang Tahun Ke-50 NTB, 17 Desember 2008 lalu.

Sabtu, 28 November 2009

Cacing Tanah Menyuburkan dan Menjaga Kesuburan Tanah

Cacing tanah menyuburkan tanah


Cacing tanah (Lumbricus rubellus) dapat menyuburkan dan menjaga kesuburan tanah. Cacing tanah awalnya akan memakan bahan organik di atas permukaan tanah. Kemudian mahluk kecil ini turun ke bagian dalam tanah, berarti cacing tanah memindahkan bahan organik dari lapisan atas menuju lapisan bawah tanah. Cacing tanah ketika berpindah ke bagian bawah juga membuat pori-pori yang dapat memperbaiki aerasi tanah.
"Selanjutnya cacing tanah juga mengeluarkan kotoran. Kotoran cacing tanah yang telah melewati pencernaannya itu, mengandung hormon-hormon tertentu yang tidak dimiliki kompos biasa dan bagus untuk pertumbuhan tanaman," kata Dr Rahayu Widiastuti, Peneliti Laboratorium Biologi Tanah Institut Pertanian Bogor menjelaskan pada beritabumi.or.id 13 Desember 2004.
Dengan cara itu, cacing tanah mampu memodifikasi lingkungan dan menyediakan unsur hara bagi organisme lain. Cacing tanah dapat disebut sebagai ecosystem engineers.
Selain itu cacing tanah juga termasuk organisme yang berperan dalam sustainable agriculture yang berprinsip mengurangi pupuk kimia yang mencemari lingkungan dan polusi air tanah.
Cacing tanah juga dikenal sebagai dekomposer. Binatang hermaprodit (berjenis kelamin ganda) itu berperan dalam proses dekomposisi dengan menghancurkan bahan-bahan organik, sampah dan serasah pada lahan tempat hidupnya.
Binatang kecil melata itu bisa disebut sebagai Pak Tani atau Petani karena dengan gerakannya dapat menggemburkan tanah yang keras. "Seperti bisa mencangkul. Di tanah yang keras, dengan gerakannya, bisa terbentuk pori-pori. Bila tanah sangat keras dapat dimakannya kemudian dikeluarkan kascingnya," ungkap Widiastuti.
Cacing mempunyai kekuatan yang luar biasa. Kekuatannya bisa mencapai 40 kali berat badannya. Bila cacing tanah beratnya 50 kg maka bisa menggerakkan berat 2.000 kg. Memang cacing tanah mempunyai hormon tertentu yang dapat membuat badannya kuat.
Bergizi dan untuk obat
Di dalam dunia kesehatan, cacing tanah juga dimanfaatkan sebagai obat. Biasanya untuk obat penyakit tifus. Cacing tanah dikeringkan dan dijadikan tepung untuk dimasukkan ke dalam kapsul.
Anjuran para pengguna lainnya, supaya khasiatnya sebagai obat lebih jelas, cacing tanah dimakan segar. Untuk satu resep, 10 ekor cacing tanah diblender lalu diminum cairannya selama tiga hari.
Cacing tanah mengandung protein dengan asam amino lebih lengkap daripada ikan dan daging. Sehingga nilai gizinya lebih baik untuk makanan dan bahan kosmetik. Di Cina cacing tanah sudah dijadikan sebagai bahan campuran kue. Di Indonesia hanya untuk makanan ternak. Di Cina, cacing tanah sudah dimanfaatkan sebagai kosmetik dalam bentuk tepung cacing untuk menghaluskan kulit.

Klasifikasi
Dalam klasifikasi biologi, cacing tanah termasuk Ordo Oligo-chaeta, Kelas Chaetopoda, Philum Annelida. Dalam Philum Annelida terdapat 1.800 spesies cacing tanah yang dikelompokkan menjadi lima famili yang tersebar di seluruh dunia. Jumlah terbesar ada di Amerika Utara, Eropa dan Asia Barat, untuk Famili Lumbricidae dengan 220 spesies.
Cacing tanah mempunyai kisaran panjang dari beberapa milimeter sampai 91 cm. Tetapi biasanya panjangnya hanya beberapa centimeter.
Sistem pencernaan cacing tanah sangat adaptif dengan aktifitas makan dan menggali pori-pori tanah. Cacing menelan tanah (termasuk residu dekomposisi organik dalam tanah) atau residu dan sisa tanaman pada permukaan tanah.
Kemudian otot yang kuat mengolah material yang tertelan dan mengeluarkannya melalui sistem pencernaan yang mengandung cairan pencernaan berupa enzim dan bercampur dengan material itu. Cairan pencernaan itu mengeluarkan asam amino, gula dan molekul organik dari residu organik (termasuk protozoa hidup, nematoda, bakteri, jamur dan mikroorganisme lain). Molekul yang paling kecill diabsorbsi melalui membram intestinal cacing tanah yang digunakan untuk energi dan sintesis sel.
Cacing tanah tidak mempunyai pembagian pernafasan yang spesifik. Pertukaran dalam pernafasan terjadi melalui permukaan tubuh.
Cacing tanah tidak selalu bereproduksi dengan perkawinan dirinya sendiri melalui sistem hermaprodit ( masing-masing individu mempunyai organ reproduksi jantan dan betina). Pertukaran sperma bersama terjadi di antara dua cacing selama perkawinan.
Sperma dewasa dan sel telur serta cairan nutrisi tersimpan dalam kokon yang diproduksi clitellum, conspicuous struktur sepertii korset dekat ujung anterior tubuh. Sel telur dibuahi oleh sel sperma dalam kokon, kemudian terlepas dan mengendap di dalam atau di atas tanah. Telur menetas setelah tiga minggu. Masing-masing kokon menghasilkan dua hingga dua puluh bayi cacing.
Cacing tanah dikelompokkan dalam tiga plasma yaitu Epigeic, Endogeic dan Anecic. Epigeic biasanya hidup di atas permukaan tanah dan memakan kotoran. Endogeic hidup di bawah permukaan tanah secara horizontal. Anecic hidup di lapisan tanah lebih dalam.

Pembuatan Kompos dengan Cacing Tanah

Pembuatan Kompos dengan Cacing Tanah


Melihat cacing tanah memang menjijikan. Tapi siapa sangka, kalau hewan yang satu ini memiliki banyak manfaat. Mulai dari bahan pakan, obat-obatan, kosmetika, sampai pembuatan kompos.
Cacing tanah mengandung protein lebih dari 70 %. Jenis cacing tanah yang biasa digunakan untuk membantu proses pembuatan pengomposan adalah Lumbricus terristis, Lumbricus rebellus, Pheretima definges, dan Eisenia foetida.
Cacing tanah ini akan menguraikan bahan-bahan kompos yang sebelumnya sudah dikomposisikan oleh mikroorganisme. Keterlibatan cacing tanah dan mikroorganisme dalam pembuatan kompos menyebab-kan cara kerjanya lebih efektif dan lebih cepat. Mau tahu cara pembuatan kompos dengan cacing tanah? Ikuti petujuknya di bawah ini:
1. Siapkan media tumbuh cacing tanah berupa bahan organik, jerami, rumput, batang pisang, kotoran ternak, dan kapur tembok.
2. Jerami, rumput, atau batang pisang dicacah menjadi ukuran yang lebih kecil. Rendam potongan tadi selama semalam. Perendaman ini bertujuan agar bahan baku kompos menjadi lebih lunak dan untuk menghilangkan sisa pestisida.
3. Campurkan bahan organik tadi dengan jerami atau batang pisang. Fermentasikan (diamkan) campuran tadi selama 1-2 minggu. Setelah itu, campurkan dengan kotoran ternak (75%) dan kapur tembok sedikit (untuk mengontrol pH). Aduk-aduk hingga bahan tercampur rata.
4. Masukkan media yang telah difermentasikan ke dalam parit, lalu biarkan hingga suhunya mulai turun atau biarkan sekitar 14 hari.
5. Setelah dingin, masukan cacing tanah dengan padat penebaran 11-14 gram/kg media.
6. Pelihara cacing tanah dengan memberi makan berupa kotoran ternak. Sebarkan kotoran ternak ini di bagian permukaan media setebal 2 cm dengan frekuensi 3 hari sekali. Kotoran ternak berfungsi juga sebagai media.
7. Jika media terlalu kering, lakukan penyiraman hingga media lembab kembali.
8. Lakukan pemanenan jika dalam media sudah tampak butiran kotoran cacing atau medianya sudah lebih halus dan warnanya lebih gelap. Panen dilakukan dengan cara memisahkan cacing tanah dengan media. Kascing yang dihasilkan siap digunakan sebagai pupuk organik.
Cacing tanah ini hanya salah satu media yang bisa kita gunakan dalam membuat kompos. Masih banyak lagi media lainnya yang diungkapkan Ir. Suhut Simamora, MS & Ir. Salundik, Msi dalam buku Meningkatkan Kualitas Kompos yang diterbitkan AgroMedia. Dalam buku ini, kedua penulis tadi juga memaparkan mekanisme proses pengomposan dan standar kualitas kompos.

Budidaya Pembesaran Belut Kolam

Budi Daya Pembesaran Belut di Kolam

Pembuatan kolam pembesaran belut diawali dengan perencanaan konstruksi kolam apakah berupa kolam bawah tanah ( kolam gali ) atau kolam di atas tanah ( kolam tembok ), lalu pemilihan lahan yang tepat untuk kolam. Kemudian dilanjutkan dengan penggalian tanah atau pembuatan bak diatas tanah. Kolam-kolam pembesaran belut dengan menggunakan kolam permanen ( tembok ) memiliki ukuran maksimal 500 cm X 500 cm kedalaman 120 cm.
Namun demikian anda juga bisa menggunakan kolam terpal dengan ukuran 400 cm X 200 cm dengan kedalaman 100 cm. Menggunakan kolam terpal memang lebih efisien dan mudah dipindahkan apabila ingin dipindahkan ke tempat lain.
Media Pemeliharaan
Setelah anda menyiapkan kolam tersebut di atas, langkah selanjutnya adalah mengisi kolam dengan media pemeliharaan dengan urutan dan ukuran sebagai berikut :
1. Jerami setinggi 25 - 40cm.2. Pupuk Urea 5 kg dan NPK 5 kg
(kolam berukuran 500 cm X 500 cm atau perbandingannya).
3. Lumpur/tanah setinggi 5 cm.
4. Pupuk Kandang setinggi 5 cm.
5. Pupuk kompos setinggi 5 cm.
6. Lumpur/tanah setinggi 5 cm.
7. Cincangan Batang Pisang setinggi 10 cm.
8. Lumpur/tanah setinggi 15 cm.
9. Air setinggi 5 cm.
Media pemeliharaan ini didiamkan agar terjadi proses permentasi selama kurang lebih dua minggu, atau paling lama 1 bulan sehingga siap untuk ditaburi bibit/benih belut yang akan dibudidayakan.





Pelaksanaan Pemeliharaan
Pelaksanaan pembesaran dapat dimulai setelah kolam dan media pemeliharaan siap. Langkah berikutnya adalah memilih bibit belut yang baik agar hasilnya dapat masimal. Bibit belut ini harus dipilih yang sempurna atau normal dan singkirkan yang tidak normal. Belut yang berkualitas ini akan menghasilkan hasil yang baik, sehingga akan berkembang dengan baik pula.

Belut berkualitas memenuhi persyaratan sebagai berikut :
1. Anggota tubuh utuh dan mulus yaitu tidak ada luka gigitan atau goresan.
2. Gerakan lincah dan agresif.
3. Penampilan sehat yang dicirikan tubuh yang keras dan tidak lemasmanakaladipegang.
4. Tubuh berukuran kecil dan berwarna kuning kecoklatan.
5. Umur antara 2-4 bulan.

Belut ini mudah berkembangbiak dialam terbuka dan tidak sulit dibudidayakan dikolam yang menyerupai habitatnya serta memberikan penghasilan yang cukup menjanjikan.
Secara alami belut memakan binatang lain yang lemah, karena itu mereka harus membuat lubang perangkap yang me-nyerupai terowongan yang berkelok agar mangsanya tidak mudah lepas. Belut ini dapat dipanen setelah tiga bulan penaburan untuk pasar lokal, namun pasar ekspor minimal enam bulan. Kolam setelah panen diperbaiki dan diganti media pemeliharaannya agar zat renik yang diperlukan pemeliharaan berikutnya dapat tersedia cukup.

Sirup Kesehatan Ramuan Alami Obat Demam Berdarah

*Sirup Kesehatan Ramuan Alami Pengobatan Demam Berdarah


Dalam mengantisipasi wabah demam berdarah(DBD),Departemen kesehatan kini tengah meneliti virus DBD yang diambil dari sampel darah pasien di sejumlah daerah. Namun penelitian tersebut belum secara luas dilakukan akibat terhambat ketiadaan dana, seperti dikatakan dalam liputan6.com.
Suatu inovasi teknologi guna membantu mengatasi wabah DBD telah berhasil ditemukan. Inovasi teknologi yang dihasilkan Balittro tersebut berupa plasma nutfah tanaman obat, khususnya untuk pengobatan DBD. Tanaman obat tersebut harus dicampurkan satu dengan lainnya agar tercipta suatu ramuan obat alami. Salah satu ramuan alami untuk mengobati DBD berupa sirup kesehatan.
Untuk membuatnya diperlukan bahan-bahan berupa kunyit (2-4 jari), temu ireng (2-3 buah), dan daun meniran (3-4 pohon). Selain itu diperlukan pula daun pepaya tua (2 lembar), daun jambu biji merah (2-3 lembar), serta garam secukupnya.
Semua bahan tersebut dicuci bersih, lalu dihancurkan menggunakan blender. Campurkan pula satu gelas air ke dalamnya. Peras ramuan tersebut dan minumkan hasil perasannya setiap empat jam sekali. Lalukan hal tersebut secara berulang hingga pulih.
Ramuan tersebut cukup manjur untuk mengobati DBD dan tidak menimbulkan efek sampaing bagi kesehatan. Hal ini dikarenakan bahan-bahan yang digunakan sebagai dasar ramuan mengandung berbagai macam khasiat. Daun pepaya dan jambu biji merah diyakini dapat membunuh virus DBD. Kunyit diketahui sebagai anti biotik, sedangkan temu ireng dapat menyembuhkan luka lambung. Adapun meniran berguna untuk menaikan jumlah trombosit, dan garam dapat menaikkan tekanan darah.
Balai Penelitian Tanaman frempah dan Obat (Balitrro) mempunyai mandat melakukan penelitian terkait dengan komoditas tanaman rempah dan obat. Sebagai lembaga penelitian yang mempunyai tujuan menggali kefektifan, keamanan dan kualitas obat herbal Indonesia dalam pelayanan kesehatan dan produksi obat herbal, Balittro telah mengoleksi tanaman obat sekitar 450 spesies.
Indonesia memang terkenal akan kekayaan plasma nutfahnya, khususnya rempah dan obat. Tak heran nusantara ini menjadi incaran banyak negara sejak dulu kala.

Memanfaatkan Limbah Peternakan untuk Membudidayakan Cacing Tanah

*Memanfaatkan Limbah Peternakan Membudidayakan Cacing Tanah


Makin bertambahnya jumlah usaha peternakan di Kabupaten Situbondo, membuat Dinas Peternakan memanfaatkan limbah peternakan untuk budidaya cacing tanah. Selama ini peternak belum mempergunakan limbah kotoran ternaknya sebagai tambahan pupuk, tapi dibuang di sekitar kandang atau di pinggir selokan.
Limbah kotoran ternak bermanfaat untuk pertanian, tidak hanya untuk sekali tanam, melainkan untuk musim tanam berikutnya karena kesuburan tanah tetap terjaga. Kotoran ternak harus diproses secara fermentasi atau dengan cara bioteknologi. Limbah ternak juga bisa diolah untuk budidaya cacing tanah. Budidaya cacing tanah yang disebut lumbricus rubellus (CTLR) ini bisa menambah potensi peternak karena manfaatnya sangat banyak.
Disnak Situbondo telah memberikan penyuluhan dan memberi fasilitas kepada petani berupa pembuatan pabrik biologis budidaya CTLR dengan memanfaatkan limbah seperti limbah rumah tangga, kotoran ternak atau bahan organik lainnya.
Menurut Kepala Bidang Produksi Dinas Peternakan (Disnak) Kabupaten Situbondo, drh Hasanuddin Riwamsia, awalnya kegiatan ini hanya merupakan pabrik penghasil pupuk organik berupa kascing atau kotoran cacing. Namun seiring dengan perkembangannya, kini biomassa afkir atau cacing yang sudah tidak produktif, diolah sebagai bahan baku utama pakan udang, ikan kerapu, dan ber-bagai budidaya hewan akuatik lainnya. Sejak saat itulah masyarakat Situbondo mulai melirik kegiatan produktif ini.
Hasanuddin menuturkan, sebelumnya di Situbondo telah dibentuk kelompok peternak bernama “Karya Abadi” beranggotakan 20 orang di Kecamatan Banyuputih. Kelompok peternak ini difasilitasi bantuan modal Pemkab Situbondo.
Kemudian secara berantai, kegiatan yang berpangkal dari peter-nak sapi tersebut, mengolah limbah ternak sapi dengan proses fermentasi pada bak fermentasi (instalasi limbah) untuk diberikan sebagai pakan ternak cacing tanah. Pada proses ini cacing tanah berkembang biak dengan menghasilkan telur serta kotoran cacing sebagai pupuk organik ramah lingkungan, dan cocok untuk ber-bagai jenis tanaman dengan ukuran 2 ton/ha lahan.
Selanjutnya, di Kecamatan Kapongan, limbah ternak sapi lebih didayagunakan lagi. Sebelum dihidangkan pada CTLR, kotoran he-wan terutama sapi dimanfaatkan biogasnya terlebih dulu. Dalam proses Biogas ini setiap 2 ekor sapi akan menghasilkan 1 titik lam-pu dan kompor untuk sekali masak setiap hari. Limbah pem-buangan biogas yang disebut Salat inilah nantinya juga diberikan ke CTLR sebagai pakan untuk budidaya pengembangan ternak cacing tanah.
Menurut Hasanuddin, 1 kg CTLR per bulan bisa menghasilkan pupuk organik dari kotoran cacing rata-rata 10 kg untuk substitusi pemenuhan kebutuhan pupuk petani. Selain itu juga bisa untuk upaya rehabilitasi petak-petak pertambakan intensif, dan peternak pemula. Selain itu dalam waktu 4 bulan pertama, tiap kilogram CTLR dapat berkembang menjadi 4 kg CTLR dewasa produktif dan anakan, serta telur yang dapat menjamin kelangsungan panen atau pen-jualan biomassa afkir perbulan dengan harga standar dan layak sebagai pendapatan peternak.”Pelaksanaannya sangat sedehana dan mudah. Bahkan secara masal bisa dilakukan peternak dengan kelompok atau perorangan, baik terintegrasi dengan kandang sapi maupun ter-pisah,” katanya. Kini pengembangan kegiatan itu didukung APBD, dan sudah terbentuk 3 kelompok peternak, di kecamatan Mangaran, Panaru-kan, dan Panji dengan anggota 20 orang.
Saat ini selain hewan akuatik, pangsa pasar biomassa CTLR berkembang ke pakan burung berkicau. Hal ini membuktikan bahwa kandungan nutrisi pada CTLR memang multiguna. Disnak Situbondo lalu mengembangkan kegiatan ini untuk lebih memberdayakan masyarakat peternak binaannya. Hasanuddin menuturkan, upaya meman-faatkan limbah dan kotoran sapi melalui bioteknologi ternak CTLR merupakan potensi usaha dengan motto ”The Red Gold for Green Life.” Artinya kegiatan ini mudah dilakukan dan cocok dengan kondisi masya-rakat Indonesia.
Selain dapat pula membantu mengurangi pengangguran, sekaligus mengikis kemiskinan. Atau bahkan memanfaatkan ekosistem pertanian dengan organiknya, ekosistem pertambakan dan hewan akuatik lainnya.”Kegiatan ini juga mendidik masyarakat untuk membiasakan menjaga lingkungan kandang agar lebih asri, sehat dan menarik serta lebih jauh dapat menjadikan bangsa yang sehat, produktif dan cerdas,” ujarnya. *(admin)